November 4, 2009

2010 University of Tsukuba “Tsukuba Scholarship” for undergraduate English course students

The University of Tsukuba invites applications from international students for the 2010 University of Tsukuba “Tsukuba Scholarship” as per the guidelines outlined below. The University of Tsukuba’s “English Course Program”, which will commence in the 2010 academic year, is newly established program through which international students studying at the University of Tsukuba at the undergraduate level can earn their academic degrees by taking classes only in English.

1. Purpose

The purpose of this scholarship is to provide financial support for exceptional international students who are applying to enter the University of Tsukuba’s English Course Program at the undergraduate level, thereby contributing to the cultivation of people who can make future contributions to international society.

2. Application Qualifications and Conditions

Applicants for this scholarship must fulfill the following conditions:

  1. Nationality: Applicants whose nationality is of a country other than Japan (limited to those countries with which Japan has diplomatic relations).
  2. Applicants who fulfill the qualifications for entering the English Course Program in any of the following undergraduate schools:
    (reference) Courses to be established in 2010

    • Undergraduate Program of International Social Studies, School of Social and International Studies
    • Interdisciplinary Course of Life and Environmental Sciences, School of Life and Environmental Sciences
  3. Applicants who, upon entering the University of Tsukuba, do not receive nor expect to receive a scholarship or scholarships from any other scholarship-granting organizations or bodies for the purpose of studying abroad.

3. Duration of Scholarship

The duration of the scholarship will be from the first month of entering the university until the end of the applicable academic year (August 2010 to March 2011). From April 2011, students may apply for other scholarships from the University of Tsukuba or from other scholarship-granting organizations or bodies.

4. Scholarship Amount Details

  1. Travel expenses: The scholarship will pay a uniform amount of 100,000 yen for travel expenses to Japan from abroad when entering the University of Tsukuba. However, this travel expense payment is limited to those recipients who will be newly coming to Japan from abroad for the purposes of entering the University of Tsukuba.
  2. Monthly stipend: Scholarship recipients will receive one of the following monthly stipends based on their results in the entrance examination etc.
    • Class 1: 100,000 yen per month
    • Class 2: 60,000 yen per month
  3. Enrollment fee and first-year tuition exemptions: In addition to the above noted travel expenses and monthly stipend, scholarship recipients will receive exemptions from paying their enrollment fee (a one-time only fee of 282,000 yen) and their first-year tuition (from August 2010 to March 2011, 357,200 yen), for a total of 639,200 yen.

5. Number of Scholarships Available

  1. Class 1: 5 scholarships
  2. Class 2: 8 scholarships

6. Application Documents

2010 University of Tsukuba “Tsukuba Scholarship” Application Form (attached form) 1 copy

Application Documents can be downloaded below.

Application Guideline      PDF
Application Form           WORD PDF

7. Application Period

Applicants for this scholarship should send by mail the “2010 University of Tsukuba ‘Tsukuba Scholarship’ Application Form” (see Item 6) to the following address during the application period indicated in the application guidelines for the English Course Program. Please note that application documentation arriving later than the prescribed application period will not be accepted.

Address for submitting application documentation:
International Student Center
University of Tsukuba
Tennodai 1-1-1
Tsukuba-shi, Ibaraki-ken JAPAN
305-8577

8. Selection and Notice of Decision

Scholarship recipients will be selected based on a comprehensive assessment of their application documentation, the results of their interview (in cases where interviews are conducted for university admission), and the content of their scholarship applications. Results of the scholarship selection will be sent to all applicants for university admission together with the notice of their entrance examination results.
Please note: All information that applicants for the 2010 Tsukuba Scholarship submit on the “2010 Tsukuba Scholarship Application Form” will be held in strictest confidence and be used only for the selection of scholarship recipients.
This information will NOT be used in connection with the University of Tsukuba entrance examination or admission to the applicant’s prospective undergraduate school, and this information has no bearing whatsoever on the results of the entrance examination.

9. Obligations of Scholarship Recipients

Scholarship recipients are expected to fully understand the educational purpose of the English Course Program that is conducted in their affiliated undergraduate school. Furthermore, it is expected that scholarship recipients consistently display leadership skills in educational activities undertaken with other students at the University of Tsukuba as well as any other activities.

10. Special Note

The scholarship will be revoked if any of the following situations occur:

  1. If the scholarship recipient has falsified any part of the application documentation.
  2. If the scholarship recipient take a leave of absence, withdraws or is expelled from his/her program of study because of disciplinary measures.
  3. If the scholarship recipient has displayed behavior in his/her studies or lifestyle that is deemed unsuitable.

11. Inquiries Regarding the Tsukuba Scholarship for 2010

Inquiries may be directed to:
The Division of International Students
Department of Global Activities
University of Tsukuba
Tel: +81-29-853-6086
Fax: +81-29-853-6204
Email: isc-somu@un.tsukuba.ac.jp

October 18, 2009

Psst.. info link download lagu :D

ini posting buat promosiin website,, hehe. setelah googling yang begitu lama, akhirnya dapat link buaaaggguuueeesss buat download lagu JPOP, MPOP, KPOP.. :D , gratis dan lengkap pula ^^V

ni link nya :D

http://www.ihoneyjoo.com

Happy Download yah!

October 18, 2009

Refleksi Gempa Indonesia : Belajar pada Bangsa Matahari Terbit

Bencana gempa dan tsunami yang melanda Ujung Banda pada 2004 silam seakan menjadi lokomotif bagi serentetan gerbong gempa yang terjadi. Jika dihitung dengan jari, ada 11 kejadian gempa dengan kekuatan berkisar antara 6,5 – 9 Skala Richter (SR) yang terjadi di seantero Indonesia[1]. Belum berakhir derita negeri ini akibat gempa yang mengguncang Tasikmalaya pada 2 September 2009 lalu—saat ini gempa di Padang pada 30 September 2009 dengan kekuatan gempa 7,6 SR—menambah daftar panjang sejarah gempa di Indonesia.

Selain meluluh-lantakkan sarana layanan umum, rumah penduduk, kantor dan tempat perbelanjaan, gempa juga menelan banyak korban jiwa. Jumlah korban tewas akibat gempa Sumatra Barat mencapai 788 orang. Sebanyak 551 di antaranya ditemukan di Padang dan 237 di Padang Pariaman. Data ini diumumkan Departemen Kesehatan setempat[2].

Indonesia memang potensial terjadi gempa maha dahsyat, tercatat sejak tahun 1900 hingga 2009, Indonesia telah mengalami 3 kali gempa hebat masing-masing pada tahun 1938, 2004, 2005 dengan kekuatan gempa berkisar antara 8.5 – 9.0 SR[3]. Potensi gempa—baik tektonik maupun vulkanik—disebabkan karena wilayah Indonesia berada dalam pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama yang aktif bergerak. Daerah rawan gempa membentang di sepanjang batas lempeng tektonik Australia dengan Asia, lempeng Asia dengan Pasifik dari timur hingga barat Sumatera sampai selatan Jawa, Nusa Tenggara, serta Banda[4]. Indonesia yang berada di lempeng Eurasia terus didesak oleh interaksi lempeng Indo-Australia dari arah selatan. Alhasil gempa kerap menggoyang wilayah barat Pulau Sumatra maupun selatan Pulau Jawa.

***

Gempa merupakan fenomena alam yang datang tiba-tiba, tetapi bukan berarti tanpa peringatan dan tidak dapat diprediksi. Sebenarnya tanda-tanda terjadinya gempa dapat diperhatikan dari perubahan perilaku alam di wilayah yang akan terjadi gempa, seperti pada saat akan terjadi gempa di Talaud Provinsi Sulawesi Utara, Sejumlah lumba-lumba menjadi pemberi tanda terjadinya gempa berkekuatan 7,4 SR[5]. Kemajuan teknologi informasi juga seharusnya dapat mengidentifikasi terjadinya gempa beberapa saat sebelum gempa mengguncang wilayah tersebut.

Secara umum permasalahan yang terkait dengan gempa di Indonesia adalah karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap langkah pencegahan dan kurang maksimalnya sistem deteksi dini sebelum terjadi gempa, serta kurangnya pemahaman masyarakat terhadap prosedur tindakan penyelamatan diri saat terjadi gempa. Akibatnya, sejarah mencatat bencana gempa di Padang akhir September 2009, telah menyebabkan ratusan nyawa telah melayang dengan mengenaskan, ratusan luka-luka dan cacat seumur hidup, serta mengalami trauma, ribuan rumah hancur, ratusan infrstruktur dan fasilitas umum serta pusaka negara (heritage) hancur, kerugian ekonomi sangat besar.

Refleksi Terhadap Negara Jepang

Ada persamaan antara Jepang dan Indonesia, yakni merupakan negara kepulauan yang berdiri di atas lempeng tektonik yang terus bergerak aktif dan dapat mengakibatkan gempa sewaktu-waktu. Menurut laporan dari United Nation Development Programme (UNDP) tentang Natural Disaster Risk Reducation, yang dirilis Agustus 2004 mencatat bahwa Indonesia menempati posisi ke-dua di dunia—setelah China—dengan rata-rata frekuensi gempa 5,5 SR ke atas terjadi 1,62 kali per tahun. Sementara Jepang berada pada posisi ke-empat dengan frekuensi 1,14 per tahun. Berdasarkan fakta ini, bisa disimpulkan bahwa resiko terjadi gempa di Indonesia lebih tinggi dibandingkan Jepang. Berangkat dari kesimpulan ini, sudah selayaknya jika Indonesia mulai belajar dari Jepang tentang langkah-langkah antisipatif dalam menghadapi gempa[6]. Perbedaan luas wilayah daratan antara Indonesia dengan Jepang, menyebabkan apabila terjadi gempa dengan skala kecil di Indonesia, getarannya tidak dirasakan secara merata pada sisi daratan yang lain.

Jepang terletak di sebelah timur benua Eurasia dengan luas Negara 377.923 km2. Jepang berada di atas Lingkaran Api Pasifik di pertemuan tiga lempeng tektonik. Oleh karena itu, Jepang sering mengalami gempa bumi berkekuatan rendah dan sesekali letusan gunung berapi. Gempa bumi dengan getaran kuat, sering menyebabkan tsunami. Setiap abadnya, di Jepang terjadi beberapa kali tsunami. Gempa bumi besar yang terjadi akhir-akhir ini di Jepang adalah Gempa bumi Kobe yang berkekuatan 7,2 SR—menurut kantor berita BBC total korban tewas tercatat 6.433 orang, 27.000 orang lainnya terluka—dan Gempa bumi Chūetsu 2004.

Tingginya frekuensi gempa dan tsunami di Jepang menjadi pendorong bagi Bangsa Jepang untuk memiliki sistem canggih yang dapat meminimalisir dampak dari bencana tersebut. Jepang memberi perhatian besar pada penelitian fenomena kegempaan dan secara intensif telah meneliti fenomena kegempaan sejak tahun 1965. Pemerintah Jepang juga kerap melakukan penyuluhan bahaya gempa, sehingga terbangun kesadaran masyarakat Jepang untuk tanggap dan sigap saat gempa mengancam. Langkah-langkah untuk menghadapi gempa diperkenalkan pada siswa mulai sekolah dasar, termasuk bagi setiap warga asing yang tinggal di Jepang. Selain itu, bangunan di Jepang dibuat dengan  konstruksi tahan gempa, furniture juga diatur tata letaknya agar tidak mudah jatuh saat terjadi gempa.

Seluruh prosedur untuk menghadapi gempa telah melekat pada masyarakat Jepang. Hal ini merupakan salah satu bukti keberhasilan pemerintah Jepang dalam program penyuluhan antisipasi gempa, serta dukungan karena tingginya kesadaran masyarakat akan bahaya gempa. Televisi memegang peranan penting dalam upaya menyiarkan peringatan tentang gempa yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga riset gempa dan dengan cekatan masyarakat mengkondisikan dirinya agar terhindar dari gempa. Dalam menghadapi gempa, masyarakat telah disiapkan dengan sistem deteksi dini, sistem diseminasi informasi, serta prosedur standar saat terjadi bencana.

Hasil jerih payah masyarakat Jepang dalam upaya melindungi dan memberi rasa aman kepada rakyatnya terbukti, salah satunya saat terjadi gempa tahun 2007 skala 6,9 Richter hanya ada 1 korban dan kerusakan infrastruktur tidak seberapa. Sedangkan di Indonesia, saat terjadi gempa di Yogya dan Jawa Tengah dengan skala 5,9 Richter korban yang meninggal lebih dari 6000 orang, korban cacat ratusan ribu dan bangunan yang rusak mencapai lebih dari 300 ribu rumah. Di Yogya dan Jawa Tengah sebagian besar korban meninggal disebabkan keruntuhan material rumahnya, karena konstruksi rumah tidak disiapkan untuk menghadapi gempa dengan skala sekitar 5,9 Richter ke atas [7].

Walhasil, kiprah Jepang telah diakui dunia internasional sebagai Negara yang memiliki sistem deteksi dini terhadap gempa dan tsunami termaju di dunia. Tidak hanya itu, Jepang juga diacungi jempol atas penangan pemulihan kondisi lingkungan dan masyarakat pascabencana. Masyarakat Jepang memiliki reaksi cepat dan tanggap untuk pemulihan kondisi pascabencana. Menariknya, kini pemerintah dan masyarakat Jepang amat siap mental dalam menghadapi gempa. Semua itu terjadi melalui proses pembelajaran, kesadaran, dan kerja keras dari pemerintah dan dukungan masyarakatnya.

Beberapa aspek penting dalam pembangunan pascagempa di Jepang adalah : (1) Penyelamatan dan pemulihan; (2) Rekonstruksi infrastruktur fisik daerah dan sosial-ekonomi masyarakat; (3) Keselamatan dan keamanan.

Pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan Hyogo Phoenix Plan. Kebijakan tersebut menekankan tidak hanya pada pengembalian infrastruktur dan pelayanan sebagaimana sebelum gempa, tetapi juga berorientasi pada creative reconstruction yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan era baru dan masyarakat matang (drive to maturity). Kebijakan ini meminjam kerangka Rostow dalam model pembangunannya, yang memiliki visi : mewujudkan masyarakat baru menyongsong abad 21 dan menciptakan kota tahan gempa sehingga warga bisa merasa nyaman[8].

Pascagempa pemerintah di Jepang mendorong adanya komunitas pencegahan bencana dimana warga disiapkan untuk siap setiap saat ketika terjadi gempa. Selain itu langkah antisipasi bencana kemudian menjadi agenda nasional dengan mempersiapkan jaringan komunikasi yang lebih baik yang kondusif pada saat-saat darurat.

Kesimpulan

Meski masyarakat Indonesia akrab dengan gempa, bukan berarti telah siap hidup dalam ancaman gempa sewaktu-waktu. Saatnya Indonesia mengikuti jejak Jepang untuk mengakrabi gempa secara sadar dan benar. Mulai berdamai dan beradaptasi dengan ancaman gempa, karena gempa merupakan bagian dari hidup kita. Pembelajaran, kesadaran, dan berbagai pengetahuan tentang gempa harus pula dipahami oleh seluruh masyarakat. Bukan hanya masyarakat yang tinggal di perkotaan, tapi seluruh lapisan masyarakat. Sehingga ketika gempa mengguncang, prosedur tindakan penyelamatan pragempa dan pascagempa dapat dijalankan. Makin mengenal sifat dan karakter gempa, minimal kerugian dan korban jiwa dapat diperkecil. Sedemikian pentingnya membudayakan sikap siap dan sigap menghadapi gempa.

Hikmah yang dapat diambil dari beberapa kasus gempa di Indonesia adalah bahwa pemerintah Indonesia harus mulai sadar tentang pentingnya mitigasi bencana alam. Dari mulai sistem deteksi dini yang mengandalkan riset, sistem informasi darurat, manajemen rehabilitasi pascagempa, serta penyuluhan gempa. Terjadinya bencana merupakan hal yang berada di luar kehendak manusia, sehingga yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia adalah memaksimalkan usaha antisipasi untuk meminimalkan dampak dan melakukan persiapan penyuluhan pascabencana. Tentu, harapan bersama masyarakat Indonesia adalah rekonstruksi fisik dan sosial-ekonomi daerah terkena gempa harus lebih baik dari sebelumnya, sebagaimana yang terjadi di Kobe, Jepang.

Meskipun begitu, Pemerintah Indonesia belum cukup melakukan langkah-langkah antisipatif untuk meminimalisasi dampak gempa dan tsunami. Pemerintah perlu melakukan penelitian yang intensif yang memberdayakan keterlibatan perguruan tinggi, mengembangkan sistem peringatan dini bekerjasama dengan negara-negara di kawasan regional, melakukan penyuluhan bencana di berbagai wilayah tanah air yang rawan gempa bumi dan tsunami, memiliki alat pendeteksi gempa, membangun tanggul di pesisir untuk menahan tsunami dan mengembangkan pembangunan rumah tahan gempa, dan langkah-langkah lainnya. Saat ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kerjasama dengan Jepang dalam pengembangan penerapan teknologi Seismic Risk Reduction (SRR) untuk mengurangi dampak gempa yang terjadi [9].

Berdasarkan paparan di atas, tidak ada salahnya bagi Indonesia untuk introspeksi diri dan melakukan kerjasama dalam peningkatan kesigapan baik bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia dalam menghadapi gempa. Serta tidak berlebihan rasanya, jika Indonesia perlu mengadopsi kebiasaan Bangsa Matahari Terbit dalam mengatasi bencana gempa, agar tujuan untuk meminimalisir dampak pascagempa dapat terwujudkan.

Sumber Online :

Daftar gempa bumi di Indonesia, Website : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_di_Indonesia

Korban Tewas Gempa Sumbar Mencapai 788 Orang, Website : http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newscatvideo/nusantara/2009/10/04/91562/Korban-Tewas-Gempa-Sumbar-Mencapai-788

Daftar gempa bumi terdahsyat di dunia, Website : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_terdahsyat_di_dunia

Indonesia Rawan Gempa Akibat Pertemuan Lempeng Tektonik , Website : http://news.okezone.com/read/2009/09/09/1/255831/1/indonesia-rawan-gempa-akibat-pertemuan-lempeng-tektonik

250 Lumba-lumba Pemberi Tanda Gempa, Website : http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/12/16144885/250.lumba-lumba.pemberi.tanda.gempa.

Langkah-langkah Menghadapi Gempa Bumi (Bagian 1), Website : http://www.pmij.org/index.php/content/view/85/78/

Gempa di Bulan Ramadhan, Peringatan Sekaligus Petunjuk, Website : http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=5912

Belajar dari Penanganan Gempa di Jepang Website : http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16

ITB Kembangkan Teknologi Pereduksi Dampak Gempa, Website : http://bandung.detik.com/read/2009/09/05/121409/1197257/486/itb-kembangkan-teknologi-pereduksi-dampak-gempa

September 12, 2009

BUDAYA YANG INDONESIA SEKALI DI SAAT RAMADHAN

Tidak terasa sudah hampir sebulan penuh ibadah puasa ini dijalankan. Banyak momen yang terkesan ‘Ramadhan banget’, dalam artian momen yang tidak dapat kita temui selain di Bulan Ramadhan. Momen apa saja sih yang selalu membuat kita rindu dengan datangnya Bulan Ramadhan? Beberapa di antaranya adalah :

  1. Pasar Kaget : tempat paling sip untuk Ngabuburit

Jarum jam sudah menunjukkan jam 3.30 sore, jangan kaget jika melihat jalanan dipadati pedagang makanan/minuman (bahkan petasan, ck… ck… ck…) dadakan. Tempat yang diburu adalah tempat yang sering dilewati banyak orang, misalnya di depan kampus (dilewati mahasiswa), di jalan sekitar pusat perbelanjaan, di alun-alun, dan di tempat ramai lainnya.

(sumber : http://1.bp.blogspot.com/_D3nJF99Rj7s/SMjXf-qnH8I/AAAAAAAAAHc/n5tEE47WKKc/s200/ngabuburit+di+pasar+ramadhan+jombang+02.JPG)

Nggak perlu modal banyak kok untuk menjadi follower pasar kaget, cukup dengan menggelar tikar atau meja dan kursi, pajang barang dagangan yang udah dikemas dengan cantik, jangan lupa pasang juga price list barang yang akan didagangkan, dibumbui do’a juga ya! Hemm… sebentar lagi pasti pembeli mampir ke stand kita.

2. Shalat tarawih dan Tadarus bersama di masjid

Ini dia rutinitas selama ramadhan yang (walaupun hukumnya sunnah) rasanya berat sekali untuk ditinggalkan. Kapan lagi akan berjumpa dengan kesempatan ini, belum tentu tahun depan masih diberi umur panjang.

(sumber : http://newsimg.bbc.co.uk/media/images/42123000/jpg/_42123836_jakartaap416.jpg)

3. Buber (Buka Bersama)

Acara yang paling ditunggu oleh orang yang berpuasa, selain merupakan syarat sah puasa (berbuka puasa adalah syarat sah puasa), kita juga bisa sambil menyelam minum air—dengan menjalin pada teman lama atau malah teman yang akan berpisah. Meningkatkan silaturahmi gitu ceritanya.

(sumber : http://eeqbalz.files.wordpress.com/2009/08/buka-bersama.jpg)

4. Membeli barang baru

Entah kapan dan darimana akar budaya ini bermulai, tetapi hingga sekarang masih eksis sebagai kebudayaan yang turun temurun. Momen lebaran yang suci dan bersih, bagi sebagian orang, tidak afdhol rasanya jika belum menjajal pakaian baru. Sebenarnya dalam Islam tidak ada ajaran seperti itu, apalagi jika ternyata budget untuk membeli baju baru itu ‘dipaksakan’ atau ‘di-ada-ada-kan’ karena sebenarnya Islam bukan agama yang memberatkan bagi umatnya.

(sumber : http://masharis.files.wordpress.com/2006/10/ketupat.jpg)

Namun, ada makna positif lain yang dapat ditarik dari budaya baju baru ini, yakni : baju baru merupakan perwujudan dari diri dan jiwa kita yang kembali ‘baru’ dan ‘suci’, di hari yang suci (lebaran). Err, dengan catatan: bersungguh-sungguh menyucikan diri selama Bulan Ramadhan dan akan terus mempertahankan peningkatan diri yang telah diraih.

5. THR/Parcel Lebaran

Perihal Parcel lebaran, sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan Pejabat Teras, Pejabat tidak Boleh Terima Parcel karena dianggap sebagai bentuk penyogokan secara halus (sumber : Media Indonesia.com, 31 Agustus 2009).

Bukankah lebih baik parcel diberikan kepada saudara kita yang lebih berhak mendapatkannya, seperti : fakir miskin, anak yatim, dll?. Dalam Islam sendiri kewajiban bagi tiap umat muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah 2,5 kg beras atau uang yang nilainya setara. Tujuannya untuk meringankan beban saudara kita yang memang membutuhkan, untuk memberikan hak mereka (yang dititipkan oleh Allah pada harta tiap-tiap muslim) dan untuk membersihkan harta yang kita miliki.

Tidak ada salahnya kan bila selain berzakat, kita juga menyenangkan hati mereka dengan hadiah berupa parcel lebaran?

6. Mudik ke kampung halaman

Konon katanya, fenomena mudik ke kampung halaman hanya ada di Indonesia—negara yang mayoritas umat Muslim. Mudik berasal dari kata udik, yang secara kasar artinya ‘ndeso’. Yah, biasanya kebiasaan mudik ini dilakukan oleh sebagian orang dari desa yang merantau ke kota (untuk bekerja atau melanjutkan sekolah) dan sudah lama tidak pulang kampung. Maka momen lebaran ini merupakan momen yang tepat untuk pulang kampung dan kembali merasakan jadi orang ‘ndeso’ atau udik.

(sumber : http://paknewulan.files.wordpress.com/2007/10/mudik.gif)

Meski sistem telekomunikasi telah dibangun hingga pelosok desa dan meski harus menyediakan budget ekstra untuk mudik, tetap tidak menyurutkan semangat kaum urban untuk mudik ke kampung halaman. Saran saya, berhati-hatilah terhadap diri sendiri, keluarga (jika ada), juga barang bawaan—jika berada di perjalanan.

7. Jam sekolah/kuliah yang pendek J dan Libur panjang

Hampir semua institusi pendidikan memberlakukannya, mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Jam pelajaran untuk tiap mata pelajaran/kuliah sengaja diperpendek. Jika pada hari biasa 1 jam pelajaran = 50 menit, pada bulan Ramadhan ini diobral hingga 30-40 menit tiap 1 jam pelajaran. Yah, lumayanlah. Masih ada waktu untuk tidur sebentar :D , kan tidur nya orang berpuasa = pahala.

Ya nggak gitu juga alasanya, tetapi karena pertimbangan faktor kesehatan dan psikologis juga. Karena energi orang yang berpuasa terbatas, akhirnya yang lebih diutamakan adalah kualitas tiap pertemuannya, bukan kuantitas pertemuan dalam suatu kegiatan berlajar-mengajar. Bukan artinya dengan berpuasa, aktifitas kita terhambat kan?

Ternyata ada banyak sekali momen unik dan spesial yang hanya ada di Bulan Ramadhan. Berbahagialah bagi orang yang selalu merindukan Bulan Ramadhan, dan melakukan peningkatan di Bulan Ramdhan, karena Allah SWT telah memiliki balasan yang setimpal.

Apapun momen yang kita rindukan di Bulan Ramadhan, yang paling penting adalah bagaimana peningkatan kita setelah Bulan Ramadhan. Jangan dianalogikan seperti baju/topeng—yang bisa dilepaskan dan dilempar ke bak kotor. Semoga iman kita terus terjaga dan bukan hanya topeng belaka.

May 23, 2009

Informasi Beasiswa Monbukagakusho untuk Lulusan SLTA dan Sederajat

Pendaftaran Beasiswa Monbukagakusho bagi lulusan SLTA dan Sederajat untuk keberangkatan tahun 2010 dibuka pada tanggal 25 Mei 2009 dan akan ditutup pada tanggal 24 Juni 2009.

Persyaratan nilai pengambilan formulir untuk tahun ini mengalami perubahan sebagai berikut :
S-1       8,2   →   8,4
D-3       8,2   →   8,0
D-2       7,7   →   8,0

Untuk persyaratan dan keterangan lain mengenai beasiswa program ini, mohon lihat di sini. (PDF file).
Hanya yang memenuhi persyaratan yang akan diproses.

Untuk melihat bidang-bidang studi yang ditawarkan untuk College of Technology (D-3) (Majors and Related Key Terms for Fields of Study), silahkan klik di sini

diambil dari : http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_slta.html