Family Finance, Life

Tips Jenius untuk Survive di Era Cashless

 

Era Cashless, Yay or Nay?

Disrupsi era digital menyebabkan perubahan gaya hidup dan pola konsumsi di masyarakat. Platform sosial media nggak lagi hanya sebagai media komunikasi dengan teman lama, tetapi menjelma jadi multi-purpose media, salah satunya: media promosi lapak. Apalagi setelah payday XD. Feeds penuh dengan posting tentang promosi gamis  beradu dengan posting promo popok murah free ongkir dari marketplace. Kalau buka marketplace abis gajian, harus kuat iman banget deh untuk menghindari tombol: add-to-cart, checkout dan payment!

Tanpa disadari metode pembayaran kita berubah sesuai perkembangan jaman. Dulu nggak pakai digital payment jenis apapun nggak masalah tuh, sekarang masih bisa? Dulu nggak pernah beli makanan di transportasi online, sekarang masih bisa tutup mata dengan promo dan pembelian dengan point? Ini adalah bukti bahwa era cashless ini bener-bener udah di depan mata yang mana kita hampir nggak punya options untuk menghindar lagi. The only solution is to update knowledge skill about digital finance for the better future. Pada 3-5 tahun lagi digital payment ini akan semakin menggeliat lho! Kebayang kan kalo anak kita udah sekolah, uang saku kita transfer berupa saldo digital payment padahal hanya untuk nge-jajan makanan di kantin sekolah bayarnya udah pake scan QR-code!

Digital-Payment
The Dawn of Digital Payment (sumber: Shutterstock)

Ada sedikit insight dari penelitian yang dilakukan tahun 2015 tentang Less Cash Sociey: Menakar Mode Konsumerisme Baru Kelas Menengah Indonesia bahwa tanpa disadari teknologi punya peran besar dalam mendorong masyarakat kelas menengah Indonesia menjadi lebih konsumtif melalui pembayaran cashless. Coba hitung deh Moms, berapa kali dalam sebulan kita beli makanan dengan promo transportasi online? Padahal masih ada bahan makanan yang bisa diolah di kulkas. Nah, yang pernah ngelakui hal tersebut, toss dulu!

Pola pembelian yang nggak berdasar pada kebutuhan ini lama-lama bisa berefek pada karakter kita lho! Karakter yang terbiasa suka membeli barang tanpa direncanakan, sehingga pengeluaran sering over-budget. Apalagi karena pembayaran cashless ini sangat effortless banget kan ya Moms, sehingga secara psikologis kita nggak ngerasa bahwa beneran udah mengeluarkan uang which is kalo ditotal ternyata kita udah spend a lot of money. Nah, mumpung masih awal bulan dan abis gajian nih, yuk diatur lagi cashflow keluarga dan mulai develop a healthy financial habit.

Kami mau share beberapa tips supaya bisa tetap bisa foya-foya bertanggungjawab di era cashless dengan bantuan aplikasi Jenius, simak terus ya sampe habis ;).

Continue reading “Tips Jenius untuk Survive di Era Cashless”

About Scholarship

Tokyo Trip Itinerary

Post ini didedikasikan untuk kalian yang butuh referensi dan ada planning untuk melakukan perjalanan ke Tokyo. Perlu diketahui sebelumnya bahwa post ini ditulis 3 tahun setelah itinerary digunakan, sehingga jika ada perbedaan harga, petunjuk transportasi, dll. bukan tanggungjawab saya XD. Itinerary ini dimulai dari Fukuoka ke Tokyo lalu kembali lagi ke Fukuoka (bukan ke Indonesia), karena perjalanan ini dilakukan saat saya lagi libur winter.

Disini saya juga nggak menyantumkan informasi biaya perjalanan berapa, karena saya juga nggak menggambarkan biaya perjalanan yang terlalu detail. Kebetulan dokumentasi perjalanan selama di Tokyo banyak yang belum saya pindah dari memori kamera ke laptop. Sehingga, saya nggak bisa cantumkan banyak-banyak gambar.

Continue reading “Tokyo Trip Itinerary”

Family Finance, Life

Mengapa Saya Memilih Jenius?

Disclaimer: ini bukan sponsored post ya, murni pengalaman pribadi penulis. Post ini lumayan panjang.

Sejak kuarter akhir tahun lalu, saya dan suami memutuskan untuk hijrah menggunakan salah satu produk digital banking dari BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Negara) bernama Jenius. BTPN ini memang salah satu Bank BUMN yang ditunjuk pemerintah untuk mengelola uang pensiunan bulanan PNS.

Jenius, dengan slogan Banking Reinvented, adalah produk digital banking yang ditawarkan oleh BTPN yang berkomitmen untuk memberi pelayanan bagi nasabahnya untuk mengatur Life Finance dengan baik. Sounds cliche? IYA KALO BELUM COBA SENDIRI. Begini ya, awalnya saya juga nggak langsung bikin Jenius kok ketika produk ini di-launch sekitar pertengahan tahun 2017. Nyesel banget kenapa nggak gabung sejak awal dulu, karena ada banyak banget promo merchant (seinget saya dulu dengan Grab) yang terlewatkan, huhu. Tapi sekarang udah nggak nyesel, karena udah ngerasain fitur-fitur di Jenius yang nggak didapat dari bank lain.

Continue reading “Mengapa Saya Memilih Jenius?”

About Travelling

Taoyuan Airport at a Glance

Daripada nganggur dan hanya disimpan di draft, saya publish pengalaman saya transit selama 24++ jam di Taoyuan Airport di bulan Agustus tahun 2015.


In this summer vacation, I decided to go back to Indonesia instead of staying and exploring Japan. I planned to go to Fuji Mountain this summer, but I cancelled it because of the summer heat that I might couldn’t afford. So, I ordered flight ticket back to Indonesia from Orbitz. I got a round trip ticket from Fukuoka to Kuala Lumpur only 359 USD (about 45.178 JPY) but I had to transfer flight in Taipei (Taoyuan Airport) for 21 hours.

BUT WHAT, 21 HOURS??!?

What the hell should I do? Chill man, thank you Google, I found out the free half day tour provided by the airport for passengers who transit more than 8 hours. I would enjoy Taipei then.

I departed from Fukuoka Airport at 10.10 AM JST and arrived in Terminal 1 Gate A9 Taoyuan Airport at 11.30 AM Taiwan time (one hour behind Japan), so it took 2 hours 20 minutes flight from Fukuoka Airport to Taoyuan Airport. I need 1 hour to reach the transit gate and find out where the money exchange was. I exchanged USD to TND (Taiwan New Dollars). I decided to bring USD because USD has stable (high) rate and accepted everywhere (since I will visit three countries with different currencies: Taiwan, Malaysia and Indonesia :p).

Continue reading “Taoyuan Airport at a Glance”

About Codes, Life

Experiencing my First Hackathon

Hackathon adalah gabungan dari kata hacking yang maksudnya untuk menyelesaikan suatu masalah secara out of the box dan marathon yang artinya kegiatan tersebut (hacking) diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya (biasanya 1-3 hari). Hackathon sendiri mulai populer di Indonesia di tahun 2014-an, at least once in a lifetime kudu coba.

Mengapa? Karena di Hackathon selain bisa meningkatkan bonding antar tim, kita juga bisa tau kemampuan masing-masing anggota tim, termasuk diri kita sendiri. Mengetahui kemampuan diri sendiri ini penting untuk meningkatkan self-confidence, bahwa kita punya lho kemampuan A, B, C, D. Selain itu, kemampuan kita untuk bertahan juga diuji, apakah kita bisa ‘bertahan’ untuk bikin prototype program yang bisa jadi problem solving in a limited time and tight deadline.

Tim Hackaton biasanya terdiri dari 3-4 orang, dengan komposisi ideal mirip formula dasar startup: ada hustler, hipster dan hacker. Hustler adalah orang yang jago presenting produk, Hipster adalah designer product dan bisa ngurusin UX/UI nya lah dan Hacker adalah orang yang ngurusin coding back-end nya. Sehingga ngga mungkin hackathon ini dilakukan oleh single fighter.

Continue reading “Experiencing my First Hackathon”