Belajar dari Waktu

Saya selalu tidak bisa berpikir secara objektif, jika topik yang dibahas mengenai Negara Jepang. Entah itu pembicaraan di kelas (karena temen-temen cowok di kelas sering nyeletuk tentang Miyabi, hahaha…) atau dalam mencari buku bacaan di Perpus—saya selalu mencari referensi tentang belajar bahasa jepang—yah, yang ke-jepang-jepangan gitu, bahkan berbicara tentang Miss World—baru kali ini saya mendukung Miss World—karena lagi-lagi, Miss World 2007 itu berasal dari Jepang😀.

Apa saya terkena sindrom Jepang ya? Apa itu berbahaya?

Saya sekarang juga sedang gencar-gencarnya mencari beasiswa monbusho (Amiin. Semoga Gusti Allah memudahkan jalan saya…). Saya ingin sekolah di Jepang ^^, entah yakin bisa mendapatkan beasiswa itu atau nggak. Manusia harus tetap memiliki ekspektasi bahwa doa dan keinginannya pasti dikabulkan oleh Allah SWT. Semangat! Semangat! Barangkali beneran bisa ngelanjutin sekolah ke Jepang (Amiin…) dan bisa ketemu dengan para pembuat komik, trus bisa dapet komik gratisan…

Sebenarnya ada banyak hal yang saya kagumi dari kebiasaan masyarakat Jepang. Salah satunya adalah masalah kedisiplinan terhadap waktu. Bukannya saya meremehkan bangsa saya sendiri, saya yakin ada banyak orang Indonesia yang memiki jiwa kedisiplinan yang tinggi terhadap waktu—termasuk guru saya, namanya memang Sri Panganti—tapi julukannya banyak antara lain : Teripang, Nyak Pang, Shaina, Marshanda dan banyak sebutan lain yang beredar hanya di kalangan murid yang dendam karena sering diomelin (hahahaha…). Umurnya (mungkin) kepala 5, tapi masih ENERGIK—buktinya, masih banyak siswa yang jadi sasaran omelannya dengan ke-pasthi-annya. Bagi saya yang juga masih tercatat sebagai siswa—juga pernah merasakan omelan mautnya karena kartu ujian semester saya tertinggal di rumah. Omelannya itu yang… aduuhh, nggak banget…sukanya diulang-ulang dan nggak update serta pada saat yang nggak tepat (mana ada sih omelan ada pada saat yang tepat?)… hehehe, becanda! Kalau ngomel selalu bilang “Untung, irungmu iku nyanthol. Lek misale gak nyanthol paleng yo wes kari ben dino…”

Sebenarnya niatnya baik. Meskipun diucapkan dengan kata-kata yang bermakna konotatif (Waks,, Bu Subi banget…). Bu Sri mencoba menanamkan sikap disiplin pada diri kita terhadap barang-barang yang kita miliki.

Untuk masalah pengumpulan tugas sekolah juga, Bu Sri nggak pernah mau kompromi. Kalau saat jam itu dikumpulkan, ya harus dikumpulkan saat itu juga—kalau ada yang belum dikumpulkan, jangan harap bisa dengan selamat melenggang santai di akhir semester—karena sudah pasti terkena vonis REMIDI! Untung saja, Bu Sri Cuma ngajar di kelas I—paling nggak, selama 3 tahun sekolah tuh, hanya 2 kali dalam 1 tahun remidi untuk pelajaran Bu Sri, hehehehe…

Lagi-lagi tujuan dari Bu Sri adalah untuk membuat siswanya disiplin terhadap waktu. Karena waktu hanya akan berputar ke depan, tidak mungkin kembali ke belakang untuk menjemput waktu yang hilang. Sebelum menyesal di masa depan, kenapa tidak berbuat semaksimal mungkin hari ini—melalui penerapan disiplin waktu.

Kalau ada ungkapan ‘Time is money’, mungkin itu ungkapan yang kurang tepat, karena seakan-akan waktu disamakan dengan materi—yakni uang. Padahal, uang merupakan sesuatu yang bisa didapatkan lagi, jika kita kehilangan uang. Tetapi, apakah begitu adanya dengan waktu? Apakah waktu bisa didapatkan lagi, jika kita kehilangan waktu di masa sebelum ini?

Time never look back.

Ada sikap kedisiplinan masyarakat Jepang terhadap waktu—yang mungkin cocok untuk dijadikan referensi.

Lakukan pekerjaan sesuai pada waktunya dan selesaikan tepat pada waktunya. Jangan terlalu cepat—karena pasti ada yang kurang teliti dalam pengerjannya—atau jangan terlalu lambat, karena kita akan ketinggalan! Kerjakan dengan tepat!

Saya jadi ingat, kejadian menggoreng bakwan tadi siang. Ada 3 jenis hasil gorengan bakwan—kuning muda, kuning keemasan, kuning kehitaman alias gosong. Hasil yang baik adalah bakwan kuning keemasan, artinya ada kesesuaian perbandingan antara waktu proses pembalikannya dan besar api untuk menggoreng. Jika salah satu bagian bakwan sudah menunjukkan warna keemasan, artinya bakwan sudah siap dibalik maka segera dibalik—agar sisi tersebut tidak menghitam kegosongan karena terkena panas minyak berlebih. Tetapi, kalau masih belum keemasan betul, jangan dibalik—karena justru akan merusak bentuk bakwan.

Setelah menggoreng bakwan itu, saya mendapatkan kesimpulan—yang mungkin sudah biasa disimpulkan oleh Ibu saya—yakni, “Lakukan proses pembalikan bakwan pada waktu yang tepat untuk mendapatkan bakwan yang renyah dan terlihat manis (karena berwarna kuning keemasan)!”

Kress… bakwan kuning keemasan memang lebih enak ^^!

Di Jepang ada bakwan gak ya?

Mulai lagi deh, Sindromium Japunius-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s