Kuliah atau kerja?

Sehabis lulus mau kemana ya? selalu bingung, selalu pusing, selalu penat. Kalau keinginan pribadi saya selalu terngiang-ngiang kata “Kuliah, wed!”. Tapi, kalau mengingat betapa beruntungnya angkatan 14 tahun ini, karena begitu banyaknya perusahaan besar yang sudah membooking lulusan tahun 2008 (alias angkatan 14) untuk bekerja—jadi akhirnya nyoba juga untuk (kalau boleh dibilang) adu peruntungan dalam dunia kerja, terlepas dari kewajiban saya sebagai anak pertama—yang notabene calon tulang punggung keluarga (ehem, ehem…)—setelah Bapak hengkang dari dunia ini (I’m sorry Dad!)

Sebenarnya ada beberapa poin positif dan negatif dalam menentukan langkah saya selanjutnya, apakah memutuskan untuk kuliah (mengikuti kata hati) ataukah kerja?’

Berikut ini merupakan beberapa pertimbangan yang patut dibaca sebelum memutuskan ingin kuliah atau kerja!

Kuliah

Kerja

Membutuhkan banyak biaya Membutuhkan sedikit biaya (malah mendapatkan tambahan biaya—karena mendapatkan gaji!)
Tujuannya memperdalam ilmu pengetahuan alias dapat pengetahuan tambahan (secara teoritis) secara periodik dan terstruktur (karena diatur dalam kurikulum perkuliahan) Memperdalam ilmu pengetahuan dan juga pengalaman (secara praktikalnya).
Mendapatkan gelar kesarjanaan yang lebih tinggi Tidak mendapatkan gelar kesarjanaan

Tantangan yang akan dihadapi dalam memasuki dunia perkuliahan lebih mudah.

Kata alumni yang bekerja :

“Kuliah bisa kapan saja—asal ada uang!”

Tantangan yang akan dihadapi dalam memasuki dunia kerja lebih susah.

Kata alumni yang bekerja :

“Lebih baik kerja sekarang, lalu mengumpulkan uang untuk kuliah.”

Untuk lulusan S1/D3/D2, tingkat kepegawaian yang akan didapatkan lebih tinggi daripada yang lulusan SMK.

Kalo katanya Mbak Dina, “Lulusan sarjana, lebih diperhitungkan untuk menjadi pegawai di bagian managemen. Sedangkan lulusan SMK, bagian teknisi (bagian yang disuruh-suruh melulu, alias kacung kali ya?)”

Sehingga gaji yang didapatkan juga lebih banyak daripada yang didapatkan oleh pegawai yang hanya lulusan SMK.

Untuk lulusan SMK, tingkat kepegawaian yang didapatkan masih sangat rendah awalnya. Berpengaruh juga pada gaji yang didapatkan.
Kualitas lulusan sarjana masih lebih diperhitungkan dibandingkan dengan pegawai lain yang berstatus SMK. Kualitas lulusan SMK masih sedikit diragukan dibandingkan dengan pegawai lain yang berstatus sarjana atau tingkat pendidikannya lebih tinggi dari SMK.
Masih belum bisa membantu perekonomian orang tua (malah membutuhkan banyak biaya!). Mungkin baru bisa membantu perekonomian orang tua 4-5 tahun ke depan! Terlepas dari alasan justifikasi, dengan bekerja bisa membantu kondisi perekonomian orang tua (sekaligus untuk berbakti…)

Semakin bingung saya untuk memilih kuliah atau kerja?

Benar juga kata Ibu saya, “Apapun pilihanmu, asalkan kamu bertanggung jawab—ibu akan selalu mendukung!”

Perlu digarisbawahi disini adalah kata ‘bertanggung jawab’! Tanggungjawab memang diperlukan dalam semua hal. “Berlaku jujur dalam segala hal, serta bekerja keras!” Itulah amanat guru saya yang hingga sekarang masih terngiang-ngiang di kepala saya.

Mmm, tambah bingung lagi jika mengingat masih ada lagi sebuah keinginan (mulia—ehem, ehem…) yang terpendam dalam hati saya yang pualing dalam—bahwasanya saya ingin mendapatkan beasiswa Jepang Monbukagakusho!

Doakan saya ya teman, semoga saya bisa mewujudkan impian saya itu. Bukan impian yang muluk-muluk kan? Hanya sebuah impian yang melulu saya ikrarkan dalam hati dengan niatan tulus untuk membuat Bapak dn Ibu saya bangga telah menghadirkan saya ke dunia ini beberapa tahun silam. Semoga tercapai. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s