Surat yang Tak Pernah Sampai!

Aku merasakan itu, merasakan rasanya teriris setiap menekan tombol enter untuk menuju pada baris selanjutnya. Baris demi baris yang dihabiskan semuanya bercerita tentang mu. Tentang mu yang selalu kuceritakan namun tak pernah kau tahu tentang apa kau diceritakan.

Aku juga menuliskan padamu surat yang tak pernah sampai. Surat cinta yang tak pernah sampai. Surat yang setiap kali aku membacanya, aku meringis…tergugu merasakan dadaku sesak. Ingin menangis…

Ada beberapa bagian keren dari cerpen yang judulnya “Surat yang Tak Pernah Sampai” dari kumpulan cerpen ‘Filosofi Kopi’. Menyentuh. Bener2 keren banget!! Seakan mengetuk pintu hatimu paling dalam, trus kamu nggak nyadar bahwa air matamu udah menggantung di kelopak mata, pingin tumpah—tapi kalau sampe tumpah pasti kamu bakal menyesal, karena kamu hanya menangisi dirimu sendiri yang nggak pernah jujur ma dirimu sendiri selama ini.

Kamu menangis karena nggak pernah tahu apa maumu. Nggak heran Sigmund Freud bingung sama kemauan wanita. Karena wanita nggak pernah tahu apa yang dia maui.

Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam… tentang dia.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.”

Kamu takut.

Kamu takut karena ingin jujur…”

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi…”

Di meja itu, kamu dikelilingi ratusan tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas mendokumentasi dan arsip, sehingga Cuma kamulah yang tersiksa?)

Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

Dia, yang tak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok… “

Ya, dia nggak pernah tahu! Bahkan mungkin nggak pernah mau tahu apa yang sedang kurasakan. Bukan sepenuhnya salah dia. Dia bisa dibilang nggak salah. Karena yang salah adalah diri kita sendiri. Kenapa juga surat itu nggak disampaikan? Agar dia tahu, agar dia mengerti apa yang kita rasa. Segampang itukah?

Stop! Bicara perasaan nggak segampang itu. Perasaan itu kompleks. Hal yang mudah bisa jadi rumit. Hal yang rumit bisa dipermudah. Nggak segampang itu bisa menyampaikan surat itu, surat yang nggak pernah sampai.

Perasaan dan harga diri, ketika 2 hal itu menyatu—dan nggak ada yang mau mengalah. Hanya waktu yang bisa menentukan. Adu kekuatan. Perasaankan yang akan menang? Atau harga diri? Huwaa…T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s