Cing…Kucing…Dimanakah Kamu?

Rombongan sampai di wilayah Sanur terlalu pagi, jadi di pagi yang cerah pada tanggal 27 Mei 2008 itulah rombongan kami menjadi turis domestik pertama yang menikmati keindahan pantai sanur (karena kepagian, sih^^)! Horaay…

Sekitar jam 4 WITA, Pantai Sanur masih gelap gulita bahkan bintang-bintang pun tak bersinar, seakan diam membisu … (blah blah blah apa-apaan nih bahasanya…) intinya, saat itu pantai Sanur masih gelap. Matahari yang ditunggu-tunggu juga belum nongol batang idungnya.

Untuk menghangatkan tubuh, yang pagi itu sangat kedinginan karena anginnya kencang banget—saya dan Agnes memutuskan untuk memilih banyak bergerak—daripada hanya duduk2 di gazebo yang disediakan!

Eh, ngomong2 tentang gazebo, saya baru ingat bahwa di gazebo itu ada seekor kucing kecil loh…awalnya saya merasa nggak ada yang aneh dengan kucing itu. Tapi setelah dipikir2, sejak menginjakkan kaki di Bali, saya baru pertama kalinya melihat kucing—ya di gazebo itu. Sepertinya di Bali memang jarang bakal ditemukan kucing. Ingat hukum alam tentang rantai makanan kan? Yah, sebego-begonya saya di pelajaran Biologi, paling nggak masih nyantol dikitlah materi tentang rantai makanan gitu…

Setahu saya, anjing dianggap sebagai hewan yang suci dan merupakan utusan dewa untuk menjaga manusia—sehingga keberadaan anjing di Bali harus dijaga dan dilestarikan (makanya jarang ditemukan makanan berbahan dasar daging anjing di Bali—padahal daging babi ada—banyak malah!). Karena itu ada banyak anjing berkeliaran dengan bebas di Bali—ngeri juga sih ngelihatnya! Bahkan setiap ketemu anjing (paling tidak) saya shock lalu mengelus2 dada, paling parah saya berteriak (seperti yang tidak sengaja saat di Tanjung Benoa—saya berteriak keras sekali, sampai membuat beberapa turis kaget—saat melihat anjing di depan saya, padahal anjing itu sedang tertidur nyenyak! Parah banget ya tingkat kagetnya!^^).

Saking banyaknya anjing di Bali, makin jarang ditemukan kucing berkeliaran bebas—kemungkinan besar, sudah banyak kelurga kucing yang habis dimangsa oleh para musuh bebuyutan mereka—yakni keluarga anjing. Lalu bagaimana dengan populasi keluarga tikus? Bukankah akan semakin banyak juga karena tidak ada keluarga kucing yang akan menyantap mereka? Eit, yang hobinya makan tikus kan nggak hanya dari keluarga kucing—tapi juga dari keluarga ular! Ular? Mmm,, berarti keluarga Ular juga hidup makmur di Bali, terutama Ular sawah—karena di Bali juga banyak sawah. Wah, wah, wah… suatu keseimbangan memang mutlak diperlukan. Percaya nggak percaya, ketidakseimbangan menyebabkan bencana! Buktinya? Udah banyak kali, salah satu contohnya adalah banjir—karena terdapat ketidakseimbangan antara jumlah hutan (sebagai resapan air) dengan jumlah air hujan. Makanya, jaga keseimbangan alam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s