Patung Garuda Wisnu Kencana vs Pak Yusuf

Lagi lagi saya ke GWK. Tapi tenang saja, saya tidak lagi-lagi mendapatkan hal yang sama di GWK. Ada banyak perubahan yang saya rasakan setelah 3 tahun mengunjungi GWK lagi. Dulunya GWK itu terlihat sepi pengunjung, masih asri gitu tapi juga masih lumayan menyeramkan, karena batu-batunya tinggi. Berasa di gua apaan gitu.

Tapi sekarang, GWK beda banget! Sudah ramai…banget! Secara keseluruhan bangunan sih, nggak beda jauh dengan yang dulu.

Peraturannya juga masih sama, yakni buat cewek yang lagi datang bulan nggak boleh masuk ke Pura nya itu yang ada di puncak GWK deketnya patung yang mirip ama Pak Yusuf—guru olahraga di MTsN dulu….(nama patungnya itu apa ya? Kebangetan banget ya sampe nggak tahu!). Pura itu memang dijaga kesuciannya—seperti masjid—dimana sebenarnya cewek yang lagi datang bulan juga nggak boleh memasuki area peribadatan, dengan alasan yang nggak jauh berbeda sih, kalo di masjid kan ditakutkan kalau si cewek ke’bocor’an trus mengotori lantai masjid—bisa jadi najis tuh masjidnya, padahal masjid kan seharusnya terjaga kesuciannya setiap waktu. Intinya, yang namanya beribadah—dalam agama apapun, kesucian dari segala elemen yang terlibat dalam proses peribadatan itu harus suci dalam arti, siap untuk menghadap yang Maha Esa dan nggak boleh asal-asalan—harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Patungnya masih sama seperti yang dulu alias masih terpisah antara burung Garuda nya dengan patung orangnya. Diperkirakan di tahun 2012 akan selesai pembuatan patung Garuda Wishnu Kencana secara keseluruhan. Nggak tanggung-tanggung tuh, 2 patung itu dikerjakan di Bandung oleh arsitek asli Bali. Tapi, kenapa harus dikerjakan di Bandung ya? Padahal di Bali juga banyak pemahat batu gitu…? Mmm, mungkin di Bandung lebih mudah akses untuk material yang dibutuhkan…

Menuju puncak GWK yang tinggi banget dibutuhkan kekuatan untuk mendaki sekitar 100 lebih anak tangga… capek juga sih… sampe puncak GWK tuh ngos-ngosan.

Lagi-lagi karena keindahan, saya sedikit melupakan rasa capeknya naik anak tangga yang banyak itu. Dari puncak GWK bisa dilihat panorama sekitar GWK yang bagus banget, ditambah lagi dengan adanya tanaman bunga flamboyan merah yang ditanam menggantung gitu deh. Kerenlah pokoknya. Standing applause for GWK!

Turun ke bawah dari puncak GWK, saya menemukan patung Garuda. Besar juga patungnya—hampir sama besarnya dengan patung orang. Saya jadi penasaran bagaimana cara menggabungkannya? Gimana juga ntar bentuk jadinya ?.

Di GWK tuh susananya seperti jaman dulu tetapi terkesan manis dan tetap modern. Masih ada bukit-bukit marmer (atau kapur ya?) yang tinggi banget dan dibawahnya dibikin ukir-ukiran cerita seperti di Borobudur gitulah. Malah sebelum GWK menjadi tempat wisata, GWK itu hanyalah kumpulan bukit-bukit doang. Hebat banget kan si pembuat GWK! Seakan bisa menyulap tempat yang sebelumnya merupakan hamparan bukit-bukit marmer—menjadi sebuah tempat wisata yang indah dan menarik perhatian warga seluruh dunia. Salut gw cing!

2 thoughts on “Patung Garuda Wisnu Kencana vs Pak Yusuf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s