Strive For Japan (Part-4 end)

Salah perhitungan! Saya pikir, kereta hari itu bakalan sepi—seperti pada saat saya pulang dari mendaftar di Kedubes Surabaya. Ternyata kereta hari itu malah penuh sesak!! Rombongan kami malah seperti tidak diorangkan . Sekitar 1 jam, kemudian baru cowok-cowok dari rombongan kami (termasuk pak wo) baru dapet tempat duduk—itupun nggak nyaman.

Tapi jika diingat lagi tujuan ke Surabaya adalah untuk bertarung demi masa depan! Jangan banyak mengeluh, apapun hal buruk/tidak menyenangkan/pahit yang terjadi anggap semuanya merupakan suplemen/vitamin bagi diri kita—supaya kita lebih kuat dalam menghadapi rintangan yang lebih besar di depan mata kita, juga mengingatkan bahwa kita akan semakin dekat dengan tujuan kita! Berjuang untuk beasiswa Jepang! Pokoknya berpikir positiflah!

Saya nggak menyangka, ternyata pada saat hari H, yang pada awalnya tes untuk D3 akan dimulai jam 7.30, ternyata baru dimulai jam 09.00—saya pikir, karena ini adalah tes beasiswa jepang—pengawasnya juga ada orang Jepangnya, kemungkinan untuk molor juga sedikit (sechara, bukankah orang Jepang itu disiplin?)—ehm ternyata sama saja! Sama molornya, lha wong yang di tes juga orang Indonesia, tetep aja jam ngaret alias molor!

Saya dan teman2 D2 yang dijadwalkan tes jam 11.45, baru dimulai tes nya jam 13.45, beyuhhh…

Subhanallah! Bercerita tentang soal-soalnya, jujur saja nggak sesusah soal SNMPTN, tapi yang jadi kendala adalah waktu pengerjaannya yang kurang banyak .

Tes pertama adalah Bahasa Inggris, tipe-tipe soalnya nggak beda jauh dengan tipe soal tahun-tahun sebelumnya, waktu pengerjaannya juga sama—60 menit!

Tes kedua, matematika. Ini sedikit lebih susah (menurut saya!) dari tahun-tahun sebelumnya!! Meskipun tipe soalnya sama.

Saya nggak berani memastikan saya berhasil atau tidak, itu semua kuasa Allah SWT. Yang jelas, saya sudah berusaha semaksimal mungkin (sampe-sampe, saya jalan sempoyongan sekeluar dari tempat tes…). Saya tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena saya sudah melakukan yang terbaik!

Kalaupun toh, saya nggak keterima tahun ini—bukankah masih ada tahun depan?

Saya memang nggak hidup di tahun depan, tetapi saya masih bisa merencanakan masa tahun depan saya mulai hari ini, jam ini, detik ini, bahkan mikrodetik ini!

Kalau saya pada saat masih SMP bisa bersabar untuk menunggu 3 tahun lamanya (untuk menghabiskan masa SMA, untuk mendapat kesempatan ikut tes beasiswa Jepang), lantas mengapa saya harus tidak bersabar untuk menunggu tahun depan untuk kembali mengikuti tes beasiswa Jepang?

Semoga saja tahun depan, rata-rata nilai yang dijadikan persyaratan D2 tidak naik seperti harga BBM! Amin!

Ini adalah catatan Strive For Japan yang terakhir, namun bukan berarti perjuangan saya untuk terus mengejar beasiswa Jepang ini juga akan berakhir loh, saya masih akan berjuang! Karena saya masih berjanji pada ayah saya untuk akan menjajaki tanah Jepang pada suatu saat!!

Yang penting berusaha! Bekerja keras! Dan Jujur! Serta berdoa!

2 thoughts on “Strive For Japan (Part-4 end)

  1. Hai Okta (atau siapa nih dipanggilnya?)

    Salam kenal ya…

    Tetap semangat, tetap berjuang yah??! Mudah2an diberikan yang terbaik oleh Allah SWT, amiin…

    Salam hangat,
    GendhiS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s