TV, Kotak Penghibur atau Informasi?

Saya baru-baru saja denger berita tentang penertiban frekuensi channel tipi dari Ella, temen gokil saya—pas saya maen-maen ke rumahnya.
“Masuk koran loh wed…”
“Heh? Iya tah? Aku kok gak tahu ya?” ah, dasar si iwed sotoy banget! “Owh, pantesan! Channel di tipi gw nggak lengkap! Selama ni tak pikir, karena masalah antenna aja yang pemasangannya miring-miring karna ketiup angin, sehingga penangkapan sinyal frekuensinya buruk!”
Ella manggut-manggut sambil menimpali, “Lha iyo iku Wed… bukan karena antenna! Tapi karena memang ada penertiban frekuensi!”
“Hm… pantesan! JTV, Spacetoon, GlobalTV juga kena ya?”

Yap! Sepotong adegan di atas adalah adegan pembuka mengapa masalah pembatasan frekuansi channel tivi ini dibahas di blog ini!
Tahu nggak sih? Channel tivi yang masih bertahan antara lain : RCTI, SCTV, Indosiar, AnTV, NDTV, Sedangkan channel lainnya pada perang semut!

Kenapa kok tiba-tiba dibatasi?
Karena mereka nggak punya izin yang memadai untuk siaran, tetapi mereka tetap aja siaran. Depkominfo saat ini sedang giat-giatnya memenertibkan frekuensi/kanal stasiun televisi lokal maupun nasional yang bersiaran di sejumlah daerah di Jatim.
Nah, salah satu yang terkena imbas penegakan hukum untuk TV lokal jawa timur adalah JTV. Stasiun televisi lokal milik Jawa Pos Grup ini terpaksa menghentikan siarannya di wilayah Malang. Stasiun TV lokal dan nasional seperti GlobalTV, Spacetoon, bahkan MetroTV, TransTV dan Trans7 juga ga da.

Kalo kata ibuku, beberapa stasiun TV itu bisa dilihat di TV yang punya sambungan parabola (buktinya, di rumah nenekku yang di desa—tapi masang parabola—siaran dari stasiun TV yang aku sebutin di atas ada semua—selain JTV…). Heaalaah.

Jadi teringat masa beberapa tahun yang lalu, pas aku masih umur 5 tahunan. Stasiun TV yang ada ya cuma RCTI, SCTV, TVRI, ANTV.

Kerugian/dampak yang akan terjadi?
Inilah yang aku ga suka dari adanya kotak hitam bergambar itu. Acaranya yang nggak mutu banget!
Sinetron yang melankolis, masa ya pemainnya (protagonis) nangis mulu! Pemain protagonis selalu ga pernah mendapatkan penghidupan yang layak, sedangkan pemain antagonis selalu berhasil dengan mudahnya menghabisi dan menganiaya pemain protagonis.
Dan lagi-lagi, pemain protagonisnya nangis. Diiringi backsound yang mendayu-dayu. Tu adegan kalo lagi sedih.
Kalo lagi seneng, pemain protagonisnya menari-nari—di tengah taman yang banyak bunga—sambil menyanyi. Tapi itu ga berlangsung lama. Dan selalu dibuat begitu. Kalo bahagia terus dan ga ada konflik, apa yang seru dong?
Jadi, perbandingan antara kesenangan dan kesedihan adalah 30:70

Wah, sudah terpengaruh filem bollywood nih😀.

Masyarakat terkesan tidak diajak untuk berpikir logis dan tidak menggunakan akal sehat untuk menyelesaikan masalah, seperti menyelesaikan masalah dengan pergi ke dukun atau paranormal—dalam hal ini, bermain game di komputer lebih memiliki nilai plus, karena dengan barmain game dapat mendidik mental kita, setidaknya untuk menyadari bahwa setiap permasalahan selalu memiliki penyelesaian yang logis. Mana ada dukun di game?

Seharusnya bagaimana dong?
Peraturan memang wajib untuk dipatuhi. Tapi kan sebenarnya peraturan juga dipatuhi untuk mempermudah hajat hidup orang banyak dan memberikan keuntungan bagi banyak masyarakat banyak. Lha siaran TV yang di off-air kan adalah siaran TV yang bermutu. Memuat lebih banyak informasi dan hiburan yang seimbang dan mendidik, dibandingkan dengan siaran TV yang tersisa—salah satu contohnya adalah MetroTV ama TVOne.

Di satu sisi memang hal itu bukan masalah yang besar (bagi yang berduit dan tinggal di kota), karena akses berita sudah ada dimana-mana, banyak pelajar dan mahasiswa yang bisa mengakses berita lewat portal berita di internet—bisa dengan cara ngendon di warnet atau dengan hot spotan.
Yap. Mudah tapi tidak murah kan?
Kenapa tidak memilih mengusahakan untuk mendapatkan informasi dengan cara yang lebih efektif? Dengan menonton berita di TV akan lebih memudahkan pemahaman bagi pelajar dan mahasiswa serta masyarakat awam lain untuk menangkap maksud berita, ditambah lagi dengan mudah dan murahnya akses masyarakat dengan menonton TV daripada harus ke warnet atau hot-spotan yang notabene menggunakan laptop.

Ayolah Pak Depkominfo, fasilitasi kami sebagai generasi muda yang memerlukan banyak suntikan berita tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Jangan biarkan kami buta dan tidak peka dengan keadaan di sekitar kita. Pak, setidaknya bagi stasiun TV yang layak tayang, perlu diadakan peninjauan kembali mengenai acara-acara apa saja yang ditayangkan—perlu adanya keseimbangan antara acara berita dan acara hiburan di stasiun TV. Sehingga setidaknya meringankan beban orang tua untuk mengawasi anaknya dalam memilih acara TV. Melegakan di kedua pihak bukan?

2 thoughts on “TV, Kotak Penghibur atau Informasi?

  1. betuuullllll!!!!! tanpa trans tipi hidupku hampaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    hohoho kalo menurutku tipi itu ya dibutuhkan seh wed…buad rame2an lek lagi begadang…hahaha

    smangadh!! ^^

  2. huaaaa….kata-kata “mendayu-dayu” membuatku kepingkel-pingkel…😀
    pokoknya indosiar, metrotv, sctv jangan di off kan😀
    alasannya:
    -indosiar: ada pokemon (minggu pkl. 07.30WIB)😀
    -metrotv: ada nanny 911 (sabtu pkl. 16.00WIB)😀
    -sctv: ada melati untuk niko (setiap hari pkl. 19.00WIB)😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s