A gama = tidak adanya perpecahan

Ada beberapa hal yang ingin saya tulis, mengenai agama.

Sejak jaman baheula—jaman nenek moyang kita—sudah ada yang namanya aktifitas penyembahan. Masih ingat kan dengan animisme dan dinamisme. Setidaknya dulu itulah kepercayaan nenek dan kakek moyang. Yap. Percaya bahwa ada kekuatan diluar kekuatannya—sendiri maupun berkelompok—yang amat sangat besar, yang bahkan mengatur every single little thing yang ada di alam semesta ini.

Merupakan hal yang mendasar sekali pada diri tiap-tiap manusia mengenai rasa kepercayaan atas adanya kekuatan yang amat besar yang mengatur segalanya di alam semesta ini. Kepercayaan tersebut melahirkan sikap penghambaan. Sikap penghambaan yang dimaksud disini adalah menghamba terhadap sesuatu yang dianggapnya memiliki sifat ‘Maha’, beberapa diantaranya Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Kasih Sayang, Maha Kaya, dan banyak Maha lainnya—yang kita sebut Tuhan—dan ‘diorganisir’ dalam satu jalur yang dinamakan agama.

Ada pertanyaaan lagi yang mengusik, apakah sebenarnya agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha) hanyalah sebuah organisasi? Perkumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan mengenai pandangan hidup dan tata cara beribadah—hingga kesamaan Tuhan.

Setiap agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran, misalnya ajaran untuk saling memberi dan saling tolong-menolong. Salah satu hal yang berbeda pada tiap-tiap agama adalah mengenai bagaimana cara beribadah alias berkomunikasi dengan Tuhan—dimana cara ibadah diatur secara khusus oleh masing-masing agama. Diluar masalah tata cara beribadah, semua agama mengandung prinsip yang sama—yakni kebenaran dan kebaikan.

Lalu, bagaimana kita memilih agama? Tanyakan kepada diri sendiri. Apakah saya cocok dengan agama ini? Karena semuanya kembali lagi ke keyakinan tiap-tiap manusia untuk memilih dan menentukan agama apa yang akan dianutnya dan diyakininya akan membawa kebahagiaan lahir bathin.

Kebaikan dan kebenaran yang diajarkan oleh agama bersifat universal dan dapat diterima oleh semua pihak. Bukan kebenaran yang terkotak-kotakkan ataupun kebaikan yang pilih-pilih. Artinya memang agama ada untuk mengatur kehidupan umat manusia di seluruh dunia, menjadikan perdamaian diantara umat manusia—karena setiap manusia yang beragama akan merasakan damai dalam hatinya.

Namun, apa yang terjadi saat ini? Kekacauan. Kekerasan. Penindasan. Peperangan. Korupsi. Kebringasan. Bencana.

Semua hal itu dengan mudahnya ditemui di berbagai media (apalagi kalo lihat acara patroli di TV😀, just relax). Lalu, dimana letak perdamaian yang indahnya digambarkan dan dijanjikan di kitab suci? Jelas ada yang salah. Tetapi apa yang salah? Agama atau manusia?

Silahkan renungkan sendiri.

Tapi menurut saya sih, tidak ada yang salah dengan agama—karena agama berasal dari zat yang Maha Sempurna dan diturunkan dengan kesempurnaan. Juga tidak salah dengan manusia, namun pada dasarnya manusia memiliki sifat paling mendasar, yakni—lupa. Manusia terkadang lupa apa sebenarnya tujuannya beragama sehingga dalam prakteknya, yang sering terjadi adalah ‘wrong way, wrong application, and bad effect‘. Maka dari tu, sebagai manusia biasa yang sering lupa, sebaiknya selalu introspeksi diri sendiri dan mengingatkan orang lain dalam platform kebaikan.

One thought on “A gama = tidak adanya perpecahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s