Bicara tentang Fatwa MUI

Baru-baru ini pasti sering terdengar di telinga kita bahwa MUI mengeluarkan beberapa fakta (yang krusial sekali) menyangkut ‘keharaman’ tiga hal : rokok, senam yoga, dan golput.

https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/_r4xaYilS1uc/SQE7RAHBnTI/AAAAAAAAAsI/mLy6-0HuL3E/s400/Donat_Kampoeng_Utami_Halal_MUI_2008.jpg(gambar diambil dari : http://1.bp.blogspot.com/_r4xaYilS1uc/SQE7RAHBnTI/AAAAAAAAAsI/mLy6-0HuL3E/s400/Donat_Kampoeng_Utami_Halal_MUI_2008.jpg)

Anehnya dari fatwa MUI itu adalah terkesan nggak penting dan nggak jelas. Kenapa MUI memilih untuk mengharamkan 3 hal itu (rokok, senam yoga, golput) sedangkan tempat-tempat prostitusi masih aman-aman saja tiap malamnya, peredaran minuman keras juga masih bebas, para koruptor juga masih nggak ketahuan mencuri uang rakyat tiap detiknya, dan menurut saya masih banyak tindak kejahatan lain yang lebih pantas untuk ditindaklanjuti terlebih dahulu.

Mungkin MUI beralasan bahwa untuk menentukan hukum sesuatu harus dimulai dari hal yang paling mendasari (sababiyah) mengapa kejahatan terjadi. Seperti pada kasus rokok, rokok dianggap merupakan ‘golden gate’ bagi setiap orang untuk terjerumus dalan lembah kemaksiyatan yang makin dalam. Simpelnya begini, seseorang sudah terbiasa merokok, ia bosan dan ingin mencoba-coba hal baru semacam ganja, pil koplo, minuman keras, jika sudah addicted dengan minuman keras dan ganja, maka tempat prostitusi juga akan dilahapnya. Akhirnya terjadilah perzinahan dan tindakan dosa lainnya.

Tetapi, tetap saja masyarakat akan menilainya sebagai hal yang sama sekali ngayal! Karena kurang ada sosialisasi yang baik tentang fatwa tersebut, dan anehnya lagi karena MUI terkesan ‘seenaknya’ bisa menghalal-haramkan sesuatu. Semakin menimbulkan kesan bahwa hukum itu bisa dibuat dengan mudah oleh manusia dan bisa juga dengan mudahnya dilanggar oleh manusia pula.

Bagaimanapun juga, dengan alasan kesehatan saya tetap mendukung fatwa ini. Hanya yang saya sesalkan adalah cara dari MUI yang sama sekali tidak menyentuh dan tidak kharismatik. Jangan meremehkan teknik penyampaian sesuatu (apalagi ni fatwa), karena jika tekniknya salah–bisa berakibat fatal, karena esensi inti dari apa yang akan disampaikan menjadi tidak tersampaikan dengan baik–justru menimbulkan ambigu dan kontroversi. Seperti apa yang terjadi pada kasus ini.

https://i0.wp.com/img57.imageshack.us/img57/6541/smoke3ci.jpg

(gambar diambil dari : http://img57.imageshack.us/img57/6541/smoke3ci.jpg)

Oh ya, ada tanda tanya besar di kepala saya, sebenarnya fatwa MUI ini ‘ditaati’ oleh siapa saja sih? Orang muslim saja kah? Atau orang non-muslim juga? Memang sih, mayoritas penduduk Indonesia memang beragama Islam alias muslim, tetapi kita juga nggak bisa menyepelekan sekitar 12% kaum non-muslim yang tersebar di seluruh Indonesia–dimana terkadang justru mereka punya andil/pengaruh kuat atas bumi Indonesia ini. Artinya, masih ada 12% yang tidak ‘taat’ MUI, meski jumlahnya hanya 12% tetapi memiliki pengaruh yang kuat terhadap rakyat Indonesia, bahkan nggak jarang 88% umat muslim Indonesia ikutan tergerus dalam pengaruh mereka.

10 thoughts on “Bicara tentang Fatwa MUI

  1. biarin di fatwa aja

    biar g da pada rokoan di tempat umum

    aq bosen kalo naek bis mesti liat orang2 pada kebul2 g jelas

    mending orang kayak gitu pas ngrokok di bekap mukaknya pake kresek biar ngrasain gimana nyedot asep tuh orang, emang enak?

    wong g dapet enaknya, malah kebagian mudhorotnya… ogah

  2. ya..itu semua tergantung dari gmn kita menilai, klo bisa diri sendiri dulu aja deh..baru ngatur2 orang lain..klo kitanya g ngrokok.pasti lingkungan juga jadi lebih bersih & sehat kan …..

    hehehe

    salam sehat,

    necromotion

  3. Boleh ya mengganti hukum yang dulunya makruh menjadi haram?
    kalau boleh, berarti boleh juga dong mengganti hukum yang dulunya wajib menjadi sunah.

  4. @yuda :
    yah, semoga MUI lebih bijak lagi dalam menentukan fatwa.

    @delufix :
    untuk alasan kesehatan, saya setuju banget!
    saya juga bosen lihat orang rokoan! Lebih bosen lagi dengan asap kendaraan yang knalpotnya blong dan asap truk sampah… wew,

    @Febrie DK :
    yup, setuju! Mari mulai hal baik dari diri kita sendiri!

    @patkey :
    ternyata bisa mengubah hukum (habis ikutan kajian agama ni😀, biasanya sih kabur…). Apalagi kalo masalah nya itu awalnya mubah dan semakin menjorok ke hal yang membahayakan–boleh diubah.
    Tapi, masalahnya masyarakat masih belum bisa menerima kata ‘haram’ yang terkesan syereeeemmm..

    @andyan :
    hehehe, iya mungkin.
    Wartawan kan udah punya obyek caleg, eh… si MUI kok nggak ada yang ngeliput? Bikin sensasi deh..

    @blackemo :
    thanks udah komen, hahaha.

  5. Fatwa itu ada karena ada pertanyaan, sepanjang tidak ada pertanyaan maka tidak ada fatwa. Setiap orang bisa mengajukan pertanyaan, tentunya dengan mekanisme yang telah ada.
    Selama umat menghargai ulama, maka sebesar itulah fatwa akan dipatuhi, persoalan adalah, jangankan menghargai ulama, agamanya sendiri saja tidak dihargai, bagaimana sebuah fatwa akan dipatuhi ??
    Yang namanya umat itu ya orang islam, dan bukan odari agama lai, tentunya sebuah kewajiban bagi uamt islam, perkara siapa yang melaksanakan … maka tinggal melihat kontent fatwa berkaitan dengan hukum umum yang berlaku dalam suatu wilayah atau tidak, Kalo berkaitan dan hukum itu berada diwilayah dengan kondisi masyarakat yang majemuk dan pejabat ikut pula berkompeten dalam menegakkan hukum tersebut, maka fatwa harus ditaati oleh semua orang. wallohu alam.

  6. marilah kita tingkatkan kesadaran diri dengan jalan berusaha taat dan patuh melaksanakan aturan dan hukum, sebab aturan itu ada untuk kebaikan kita semua..

  7. Sebenernya sih tujuan fatwa tersebut baik, tapi kalo dipikir lebih jauh, efek jeleknya bisa-bisa setara sama efek baiknya, malah bisa lebih besar. Tapi kadang kita nggak akan bisa mencapai kemajuan tanpa adanya golongan yang dikorbankan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s