Wow, Perempuan Jadi Caleg

Sering kita jumpai bukan, umbul-umbul atau spanduk yang memajang foto ayu seorang wanita karir yang menggunakan jas, dengan dandanan yang tampak elegan dilengkapi dengan motto pembangkit gairah sosial pembacanya, serta lambang partai yang mengusungnya dalam panggung politik. Yap. Banyak wanita yang mencalonkan diri menjadi caleg saat ini. Seingat saya, hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya–kalaupun pernah terjadi, saya sudah lupa😀, maklum dulu saya nggak berpikir sejauh ini. Dan baru saat ini saya berpikir bahwa wanita dan pria memiliki hak yang sama untuk berpendapat, termasuk berpolitik–karena sama-sama memiliki hak untuk memilih dan dipilih.

http://www.wikimu.com/Common/NewsImage.ashx?id=10914(gambar diambil dari : http://www.wikimu.com/Common/NewsImage.ashx?id=10914)

Apapun alasannya, menurut saya inilah era kemajuan. Dimana di era inilah saatnya wanita berkarya dan karya wanita dihargai. Saya jadi ingat tentang film Perempuan Berkalung Sorban, yang menceritakan tentang bagaimana perjuangan seorang wanita untuk menghargai hidupnya dengan terus berkarya dan tidak ‘mati’ kreasi dalam tekanan. Sungguh film yang inspiratif dan patut ditonton!

Oke, kembali ke masalah pokok. Perempuan Jadi Caleg. Mari kita bahas dari 2 sudut pandang yang berbeda.

Why Not : (it should be yes!)
Coba bayangkan, foto kalianlah yang terpajang di umbul-umbul dan spanduk di sudut-sudut jalan. Apa yang kalian rasakan? Bangga bukan? Bisa menunjukkan eksistensi kita di depan umum, menjadi calon legislatif pula!
Bukankah ini merupakan suatu bentuk perwujudan dari aktualisasi diri kita sebagai warga negara indonesia–terlebih sebagai seorang wanita. Dimana wanita tidak harus melulu berkutat pada sumur, dapur dan kasur!

Seorang Ibu bergumam dalam hati, “Lagipula, dengan keberhasilanku saat ini, bukankah bisa menjadi teladan dan gambaran sukses–bagi anak-anak–tentang seorang Ibu yang modern dan berprestasi? Siapa tahu anak-anak nanti bisa menjadi penggantiku di generasi selanjutnya. Anakku, Ibu melakukan semua ini demi kamu. Demi kesejahteraan keluarga dan penghargaan serta kebanggaan tersendiri buat Ibu.”

Why Yes : (it should be no!)
“Mama, kapan punya waktu untuk mengambil raporku?” bayangkan! Anak kecil yang berkata seperti itu adalah kita–meratap sedih, karena seorang ibu yang sibuk dengan pekerjaannya, sehingga melupakan pekerjaan utamanya untuk mendidik anak-anaknya.
Kekecewaan yang timbul dalam diri kita–sebagai anak, pasti akan menafikan segala macam ‘kehebatan’ orasi ibunya di panggung politik. Kita hanya membutuhkan kasih sayang dan kehadiranmu Ibu, nggak lebih. Sedangkan Ibu selalu sibuk dengan partainya dan kepopuleran yang diraihnya saat menjadi dewan legislatif.
Ibu mendengarkan suara rakyat, tapi bahkan tidak mendengar jeritanku!

Setidaknya dengan melihat 2 reaksi nyata yang kontras dari satu masalah, solusi yang tepat menurut saya adalah :
Wanita tetap tidak bisa meninggalkan kewajibannya untuk mengurus rumah tangga. Rumah tangga merupakan lingkungan awal yang sangat berpengaruh dalam pembentukan mental keluarga dan anak-anak. Dan manifestasi utama sebagai seorang wanita adalah keluarga yang utuh dan anak-anak yang patuh.

Sehingga sebagai wanita, sebaiknya sebisa mungkin mengaktualisasikan diri dalam lingkungan yang dekat dengan keluarga. Contohnya, dengan memilih untuk bekerja di rumah daripada bekerja di kantor. Pilihan bekerja di rumah bisa bermacam-macam, misalnya sebagai penulis, jurnalis, guru homeschooling yang menggunakan internet, guru private, penjahit, koki, dll. Artinya dengan bekerja di rumah, selain dapat mengembangkan potensi dirinya, dia juga dapat mengurus kebutuhan rumah tangga dengan baik.
Gak bisa jadi politisi dong? Siapa bilang? Teknologi sudah canggih. Cobalah untuk berpolitisi melalui dunia internet, dengan menulis blog dan video pemikirannya tentang sesuatu. Inilah gaya berpolitisi modern–seperti yang dilakukan oleh Barrack Obama.

5 thoughts on “Wow, Perempuan Jadi Caleg

  1. Perempuan tuh… enakan di rumah aja… ntar..klo kebanyakan kesibukan di luar rumah…. kan kasian suaminya… kalo sang suami udah pulang kerja terus gak ada yang ngelayanin??? gimana??
    apa??pembantu??? iya kalo cuma pengen teh aja…
    kalo pengen yang laen??

    HAYO!!!

  2. @andyan :
    yan, makasih komennya! Hoho.
    yah, maaf ya… karena blogku ini, kau jadi mencampakkan blogmu…
    oke, gantian ntar aku yang komen ke blogmu😀
    hohohoh,,

    @blackemo :
    wew, bener juga tuh. Tapi kok yo contohnya menyeramkan gitu…
    Istri boleh di rumah asal jangan biarkan kreatifitas istri mati!
    Lha moso istri mek digawe ‘husband’s full service’ doang?😀

  3. ya iyalah… kalo aku dah punya istri.. aq bakalan nurutin “semua” permintaan istri.. asalkan dia stay at home terus.. mau buka usaha… monggo… mau di buatin taman bunga yang amazing… gampang…. mau “dilayanin” tiap hari…. alah…kecesss itu mah!!! 😀

  4. tambahan buat iwedth, buka toko ataupun buka salon di rumah juga bisa.

    aku jadi ingat mbokku, mbokku ibu ngurusin anak iya, ngurusin dapur iya, ngurusin duwit iya, jadi pekerja iya, sampai-sampai jadi ayah iya, soalnya sang babe kerja di luar kota, jadinya mbokku kudu jadi ibu dan ayah sekaligus, sungguh berat kurasa, namun itulah mbokku, wanita tegar yang tak kenal lelah, sampai-sampai mbokku juga ikutan kampanye pas pilkada jatim, yakni kampanye buat Ka-Ji Manteb🙂
    jadi bangga punya mbok super, oh mbokku..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s