BUDAYA YANG INDONESIA SEKALI DI SAAT RAMADHAN

Tidak terasa sudah hampir sebulan penuh ibadah puasa ini dijalankan. Banyak momen yang terkesan ‘Ramadhan banget’, dalam artian momen yang tidak dapat kita temui selain di Bulan Ramadhan. Momen apa saja sih yang selalu membuat kita rindu dengan datangnya Bulan Ramadhan? Beberapa di antaranya adalah :

  1. Pasar Kaget : tempat paling sip untuk Ngabuburit

Jarum jam sudah menunjukkan jam 3.30 sore, jangan kaget jika melihat jalanan dipadati pedagang makanan/minuman (bahkan petasan, ck… ck… ck…) dadakan. Tempat yang diburu adalah tempat yang sering dilewati banyak orang, misalnya di depan kampus (dilewati mahasiswa), di jalan sekitar pusat perbelanjaan, di alun-alun, dan di tempat ramai lainnya.

(sumber : http://1.bp.blogspot.com/_D3nJF99Rj7s/SMjXf-qnH8I/AAAAAAAAAHc/n5tEE47WKKc/s200/ngabuburit+di+pasar+ramadhan+jombang+02.JPG)

Nggak perlu modal banyak kok untuk menjadi follower pasar kaget, cukup dengan menggelar tikar atau meja dan kursi, pajang barang dagangan yang udah dikemas dengan cantik, jangan lupa pasang juga price list barang yang akan didagangkan, dibumbui do’a juga ya! Hemm… sebentar lagi pasti pembeli mampir ke stand kita.

2. Shalat tarawih dan Tadarus bersama di masjid

Ini dia rutinitas selama ramadhan yang (walaupun hukumnya sunnah) rasanya berat sekali untuk ditinggalkan. Kapan lagi akan berjumpa dengan kesempatan ini, belum tentu tahun depan masih diberi umur panjang.

(sumber : http://newsimg.bbc.co.uk/media/images/42123000/jpg/_42123836_jakartaap416.jpg)

3. Buber (Buka Bersama)

Acara yang paling ditunggu oleh orang yang berpuasa, selain merupakan syarat sah puasa (berbuka puasa adalah syarat sah puasa), kita juga bisa sambil menyelam minum air—dengan menjalin pada teman lama atau malah teman yang akan berpisah. Meningkatkan silaturahmi gitu ceritanya.

(sumber : http://eeqbalz.files.wordpress.com/2009/08/buka-bersama.jpg)

4. Membeli barang baru

Entah kapan dan darimana akar budaya ini bermulai, tetapi hingga sekarang masih eksis sebagai kebudayaan yang turun temurun. Momen lebaran yang suci dan bersih, bagi sebagian orang, tidak afdhol rasanya jika belum menjajal pakaian baru. Sebenarnya dalam Islam tidak ada ajaran seperti itu, apalagi jika ternyata budget untuk membeli baju baru itu ‘dipaksakan’ atau ‘di-ada-ada-kan’ karena sebenarnya Islam bukan agama yang memberatkan bagi umatnya.

(sumber : http://masharis.files.wordpress.com/2006/10/ketupat.jpg)

Namun, ada makna positif lain yang dapat ditarik dari budaya baju baru ini, yakni : baju baru merupakan perwujudan dari diri dan jiwa kita yang kembali ‘baru’ dan ‘suci’, di hari yang suci (lebaran). Err, dengan catatan: bersungguh-sungguh menyucikan diri selama Bulan Ramadhan dan akan terus mempertahankan peningkatan diri yang telah diraih.

5. THR/Parcel Lebaran

Perihal Parcel lebaran, sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan Pejabat Teras, Pejabat tidak Boleh Terima Parcel karena dianggap sebagai bentuk penyogokan secara halus (sumber : Media Indonesia.com, 31 Agustus 2009).

Bukankah lebih baik parcel diberikan kepada saudara kita yang lebih berhak mendapatkannya, seperti : fakir miskin, anak yatim, dll?. Dalam Islam sendiri kewajiban bagi tiap umat muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah 2,5 kg beras atau uang yang nilainya setara. Tujuannya untuk meringankan beban saudara kita yang memang membutuhkan, untuk memberikan hak mereka (yang dititipkan oleh Allah pada harta tiap-tiap muslim) dan untuk membersihkan harta yang kita miliki.

Tidak ada salahnya kan bila selain berzakat, kita juga menyenangkan hati mereka dengan hadiah berupa parcel lebaran?

6. Mudik ke kampung halaman

Konon katanya, fenomena mudik ke kampung halaman hanya ada di Indonesia—negara yang mayoritas umat Muslim. Mudik berasal dari kata udik, yang secara kasar artinya ‘ndeso’. Yah, biasanya kebiasaan mudik ini dilakukan oleh sebagian orang dari desa yang merantau ke kota (untuk bekerja atau melanjutkan sekolah) dan sudah lama tidak pulang kampung. Maka momen lebaran ini merupakan momen yang tepat untuk pulang kampung dan kembali merasakan jadi orang ‘ndeso’ atau udik.

(sumber : http://paknewulan.files.wordpress.com/2007/10/mudik.gif)

Meski sistem telekomunikasi telah dibangun hingga pelosok desa dan meski harus menyediakan budget ekstra untuk mudik, tetap tidak menyurutkan semangat kaum urban untuk mudik ke kampung halaman. Saran saya, berhati-hatilah terhadap diri sendiri, keluarga (jika ada), juga barang bawaan—jika berada di perjalanan.

7. Jam sekolah/kuliah yang pendek J dan Libur panjang

Hampir semua institusi pendidikan memberlakukannya, mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Jam pelajaran untuk tiap mata pelajaran/kuliah sengaja diperpendek. Jika pada hari biasa 1 jam pelajaran = 50 menit, pada bulan Ramadhan ini diobral hingga 30-40 menit tiap 1 jam pelajaran. Yah, lumayanlah. Masih ada waktu untuk tidur sebentar😀, kan tidur nya orang berpuasa = pahala.

Ya nggak gitu juga alasanya, tetapi karena pertimbangan faktor kesehatan dan psikologis juga. Karena energi orang yang berpuasa terbatas, akhirnya yang lebih diutamakan adalah kualitas tiap pertemuannya, bukan kuantitas pertemuan dalam suatu kegiatan berlajar-mengajar. Bukan artinya dengan berpuasa, aktifitas kita terhambat kan?

Ternyata ada banyak sekali momen unik dan spesial yang hanya ada di Bulan Ramadhan. Berbahagialah bagi orang yang selalu merindukan Bulan Ramadhan, dan melakukan peningkatan di Bulan Ramdhan, karena Allah SWT telah memiliki balasan yang setimpal.

Apapun momen yang kita rindukan di Bulan Ramadhan, yang paling penting adalah bagaimana peningkatan kita setelah Bulan Ramadhan. Jangan dianalogikan seperti baju/topeng—yang bisa dilepaskan dan dilempar ke bak kotor. Semoga iman kita terus terjaga dan bukan hanya topeng belaka.

6 thoughts on “BUDAYA YANG INDONESIA SEKALI DI SAAT RAMADHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s