Refleksi Gempa Indonesia : Belajar pada Bangsa Matahari Terbit

Bencana gempa dan tsunami yang melanda Ujung Banda pada 2004 silam seakan menjadi lokomotif bagi serentetan gerbong gempa yang terjadi. Jika dihitung dengan jari, ada 11 kejadian gempa dengan kekuatan berkisar antara 6,5 – 9 Skala Richter (SR) yang terjadi di seantero Indonesia[1]. Belum berakhir derita negeri ini akibat gempa yang mengguncang Tasikmalaya pada 2 September 2009 lalu—saat ini gempa di Padang pada 30 September 2009 dengan kekuatan gempa 7,6 SR—menambah daftar panjang sejarah gempa di Indonesia.

Selain meluluh-lantakkan sarana layanan umum, rumah penduduk, kantor dan tempat perbelanjaan, gempa juga menelan banyak korban jiwa. Jumlah korban tewas akibat gempa Sumatra Barat mencapai 788 orang. Sebanyak 551 di antaranya ditemukan di Padang dan 237 di Padang Pariaman. Data ini diumumkan Departemen Kesehatan setempat[2].

Indonesia memang potensial terjadi gempa maha dahsyat, tercatat sejak tahun 1900 hingga 2009, Indonesia telah mengalami 3 kali gempa hebat masing-masing pada tahun 1938, 2004, 2005 dengan kekuatan gempa berkisar antara 8.5 – 9.0 SR[3]. Potensi gempa—baik tektonik maupun vulkanik—disebabkan karena wilayah Indonesia berada dalam pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama yang aktif bergerak. Daerah rawan gempa membentang di sepanjang batas lempeng tektonik Australia dengan Asia, lempeng Asia dengan Pasifik dari timur hingga barat Sumatera sampai selatan Jawa, Nusa Tenggara, serta Banda[4]. Indonesia yang berada di lempeng Eurasia terus didesak oleh interaksi lempeng Indo-Australia dari arah selatan. Alhasil gempa kerap menggoyang wilayah barat Pulau Sumatra maupun selatan Pulau Jawa.

***

Gempa merupakan fenomena alam yang datang tiba-tiba, tetapi bukan berarti tanpa peringatan dan tidak dapat diprediksi. Sebenarnya tanda-tanda terjadinya gempa dapat diperhatikan dari perubahan perilaku alam di wilayah yang akan terjadi gempa, seperti pada saat akan terjadi gempa di Talaud Provinsi Sulawesi Utara, Sejumlah lumba-lumba menjadi pemberi tanda terjadinya gempa berkekuatan 7,4 SR[5]. Kemajuan teknologi informasi juga seharusnya dapat mengidentifikasi terjadinya gempa beberapa saat sebelum gempa mengguncang wilayah tersebut.

Secara umum permasalahan yang terkait dengan gempa di Indonesia adalah karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap langkah pencegahan dan kurang maksimalnya sistem deteksi dini sebelum terjadi gempa, serta kurangnya pemahaman masyarakat terhadap prosedur tindakan penyelamatan diri saat terjadi gempa. Akibatnya, sejarah mencatat bencana gempa di Padang akhir September 2009, telah menyebabkan ratusan nyawa telah melayang dengan mengenaskan, ratusan luka-luka dan cacat seumur hidup, serta mengalami trauma, ribuan rumah hancur, ratusan infrstruktur dan fasilitas umum serta pusaka negara (heritage) hancur, kerugian ekonomi sangat besar.

Refleksi Terhadap Negara Jepang

Ada persamaan antara Jepang dan Indonesia, yakni merupakan negara kepulauan yang berdiri di atas lempeng tektonik yang terus bergerak aktif dan dapat mengakibatkan gempa sewaktu-waktu. Menurut laporan dari United Nation Development Programme (UNDP) tentang Natural Disaster Risk Reducation, yang dirilis Agustus 2004 mencatat bahwa Indonesia menempati posisi ke-dua di dunia—setelah China—dengan rata-rata frekuensi gempa 5,5 SR ke atas terjadi 1,62 kali per tahun. Sementara Jepang berada pada posisi ke-empat dengan frekuensi 1,14 per tahun. Berdasarkan fakta ini, bisa disimpulkan bahwa resiko terjadi gempa di Indonesia lebih tinggi dibandingkan Jepang. Berangkat dari kesimpulan ini, sudah selayaknya jika Indonesia mulai belajar dari Jepang tentang langkah-langkah antisipatif dalam menghadapi gempa[6]. Perbedaan luas wilayah daratan antara Indonesia dengan Jepang, menyebabkan apabila terjadi gempa dengan skala kecil di Indonesia, getarannya tidak dirasakan secara merata pada sisi daratan yang lain.

Jepang terletak di sebelah timur benua Eurasia dengan luas Negara 377.923 km2. Jepang berada di atas Lingkaran Api Pasifik di pertemuan tiga lempeng tektonik. Oleh karena itu, Jepang sering mengalami gempa bumi berkekuatan rendah dan sesekali letusan gunung berapi. Gempa bumi dengan getaran kuat, sering menyebabkan tsunami. Setiap abadnya, di Jepang terjadi beberapa kali tsunami. Gempa bumi besar yang terjadi akhir-akhir ini di Jepang adalah Gempa bumi Kobe yang berkekuatan 7,2 SR—menurut kantor berita BBC total korban tewas tercatat 6.433 orang, 27.000 orang lainnya terluka—dan Gempa bumi Chūetsu 2004.

Tingginya frekuensi gempa dan tsunami di Jepang menjadi pendorong bagi Bangsa Jepang untuk memiliki sistem canggih yang dapat meminimalisir dampak dari bencana tersebut. Jepang memberi perhatian besar pada penelitian fenomena kegempaan dan secara intensif telah meneliti fenomena kegempaan sejak tahun 1965. Pemerintah Jepang juga kerap melakukan penyuluhan bahaya gempa, sehingga terbangun kesadaran masyarakat Jepang untuk tanggap dan sigap saat gempa mengancam. Langkah-langkah untuk menghadapi gempa diperkenalkan pada siswa mulai sekolah dasar, termasuk bagi setiap warga asing yang tinggal di Jepang. Selain itu, bangunan di Jepang dibuat dengan  konstruksi tahan gempa, furniture juga diatur tata letaknya agar tidak mudah jatuh saat terjadi gempa.

Seluruh prosedur untuk menghadapi gempa telah melekat pada masyarakat Jepang. Hal ini merupakan salah satu bukti keberhasilan pemerintah Jepang dalam program penyuluhan antisipasi gempa, serta dukungan karena tingginya kesadaran masyarakat akan bahaya gempa. Televisi memegang peranan penting dalam upaya menyiarkan peringatan tentang gempa yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga riset gempa dan dengan cekatan masyarakat mengkondisikan dirinya agar terhindar dari gempa. Dalam menghadapi gempa, masyarakat telah disiapkan dengan sistem deteksi dini, sistem diseminasi informasi, serta prosedur standar saat terjadi bencana.

Hasil jerih payah masyarakat Jepang dalam upaya melindungi dan memberi rasa aman kepada rakyatnya terbukti, salah satunya saat terjadi gempa tahun 2007 skala 6,9 Richter hanya ada 1 korban dan kerusakan infrastruktur tidak seberapa. Sedangkan di Indonesia, saat terjadi gempa di Yogya dan Jawa Tengah dengan skala 5,9 Richter korban yang meninggal lebih dari 6000 orang, korban cacat ratusan ribu dan bangunan yang rusak mencapai lebih dari 300 ribu rumah. Di Yogya dan Jawa Tengah sebagian besar korban meninggal disebabkan keruntuhan material rumahnya, karena konstruksi rumah tidak disiapkan untuk menghadapi gempa dengan skala sekitar 5,9 Richter ke atas [7].

Walhasil, kiprah Jepang telah diakui dunia internasional sebagai Negara yang memiliki sistem deteksi dini terhadap gempa dan tsunami termaju di dunia. Tidak hanya itu, Jepang juga diacungi jempol atas penangan pemulihan kondisi lingkungan dan masyarakat pascabencana. Masyarakat Jepang memiliki reaksi cepat dan tanggap untuk pemulihan kondisi pascabencana. Menariknya, kini pemerintah dan masyarakat Jepang amat siap mental dalam menghadapi gempa. Semua itu terjadi melalui proses pembelajaran, kesadaran, dan kerja keras dari pemerintah dan dukungan masyarakatnya.

Beberapa aspek penting dalam pembangunan pascagempa di Jepang adalah : (1) Penyelamatan dan pemulihan; (2) Rekonstruksi infrastruktur fisik daerah dan sosial-ekonomi masyarakat; (3) Keselamatan dan keamanan.

Pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan Hyogo Phoenix Plan. Kebijakan tersebut menekankan tidak hanya pada pengembalian infrastruktur dan pelayanan sebagaimana sebelum gempa, tetapi juga berorientasi pada creative reconstruction yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan era baru dan masyarakat matang (drive to maturity). Kebijakan ini meminjam kerangka Rostow dalam model pembangunannya, yang memiliki visi : mewujudkan masyarakat baru menyongsong abad 21 dan menciptakan kota tahan gempa sehingga warga bisa merasa nyaman[8].

Pascagempa pemerintah di Jepang mendorong adanya komunitas pencegahan bencana dimana warga disiapkan untuk siap setiap saat ketika terjadi gempa. Selain itu langkah antisipasi bencana kemudian menjadi agenda nasional dengan mempersiapkan jaringan komunikasi yang lebih baik yang kondusif pada saat-saat darurat.

Kesimpulan

Meski masyarakat Indonesia akrab dengan gempa, bukan berarti telah siap hidup dalam ancaman gempa sewaktu-waktu. Saatnya Indonesia mengikuti jejak Jepang untuk mengakrabi gempa secara sadar dan benar. Mulai berdamai dan beradaptasi dengan ancaman gempa, karena gempa merupakan bagian dari hidup kita. Pembelajaran, kesadaran, dan berbagai pengetahuan tentang gempa harus pula dipahami oleh seluruh masyarakat. Bukan hanya masyarakat yang tinggal di perkotaan, tapi seluruh lapisan masyarakat. Sehingga ketika gempa mengguncang, prosedur tindakan penyelamatan pragempa dan pascagempa dapat dijalankan. Makin mengenal sifat dan karakter gempa, minimal kerugian dan korban jiwa dapat diperkecil. Sedemikian pentingnya membudayakan sikap siap dan sigap menghadapi gempa.

Hikmah yang dapat diambil dari beberapa kasus gempa di Indonesia adalah bahwa pemerintah Indonesia harus mulai sadar tentang pentingnya mitigasi bencana alam. Dari mulai sistem deteksi dini yang mengandalkan riset, sistem informasi darurat, manajemen rehabilitasi pascagempa, serta penyuluhan gempa. Terjadinya bencana merupakan hal yang berada di luar kehendak manusia, sehingga yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia adalah memaksimalkan usaha antisipasi untuk meminimalkan dampak dan melakukan persiapan penyuluhan pascabencana. Tentu, harapan bersama masyarakat Indonesia adalah rekonstruksi fisik dan sosial-ekonomi daerah terkena gempa harus lebih baik dari sebelumnya, sebagaimana yang terjadi di Kobe, Jepang.

Meskipun begitu, Pemerintah Indonesia belum cukup melakukan langkah-langkah antisipatif untuk meminimalisasi dampak gempa dan tsunami. Pemerintah perlu melakukan penelitian yang intensif yang memberdayakan keterlibatan perguruan tinggi, mengembangkan sistem peringatan dini bekerjasama dengan negara-negara di kawasan regional, melakukan penyuluhan bencana di berbagai wilayah tanah air yang rawan gempa bumi dan tsunami, memiliki alat pendeteksi gempa, membangun tanggul di pesisir untuk menahan tsunami dan mengembangkan pembangunan rumah tahan gempa, dan langkah-langkah lainnya. Saat ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kerjasama dengan Jepang dalam pengembangan penerapan teknologi Seismic Risk Reduction (SRR) untuk mengurangi dampak gempa yang terjadi [9].

Berdasarkan paparan di atas, tidak ada salahnya bagi Indonesia untuk introspeksi diri dan melakukan kerjasama dalam peningkatan kesigapan baik bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia dalam menghadapi gempa. Serta tidak berlebihan rasanya, jika Indonesia perlu mengadopsi kebiasaan Bangsa Matahari Terbit dalam mengatasi bencana gempa, agar tujuan untuk meminimalisir dampak pascagempa dapat terwujudkan.

Sumber Online :

Daftar gempa bumi di Indonesia, Website : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_di_Indonesia

Korban Tewas Gempa Sumbar Mencapai 788 Orang, Website : http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newscatvideo/nusantara/2009/10/04/91562/Korban-Tewas-Gempa-Sumbar-Mencapai-788

Daftar gempa bumi terdahsyat di dunia, Website : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_terdahsyat_di_dunia

Indonesia Rawan Gempa Akibat Pertemuan Lempeng Tektonik , Website : http://news.okezone.com/read/2009/09/09/1/255831/1/indonesia-rawan-gempa-akibat-pertemuan-lempeng-tektonik

250 Lumba-lumba Pemberi Tanda Gempa, Website : http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/12/16144885/250.lumba-lumba.pemberi.tanda.gempa.

Langkah-langkah Menghadapi Gempa Bumi (Bagian 1), Website : http://www.pmij.org/index.php/content/view/85/78/

Gempa di Bulan Ramadhan, Peringatan Sekaligus Petunjuk, Website : http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=5912

Belajar dari Penanganan Gempa di Jepang Website : http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16

ITB Kembangkan Teknologi Pereduksi Dampak Gempa, Website : http://bandung.detik.com/read/2009/09/05/121409/1197257/486/itb-kembangkan-teknologi-pereduksi-dampak-gempa

2 thoughts on “Refleksi Gempa Indonesia : Belajar pada Bangsa Matahari Terbit

  1. lengkap coy,
    memang Indonesia musti banyak-banyak belajar lagi,
    untuk pemerintah, jangan patah semangat, semangat2..!!

    (ada nggak ya pemerintah yang baca soal ini wedth?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s