Batik, Budaya Bangsa (3B) Indonesia

Bulan Mei mungkin adalah salah satu bulan yang paling saya tunggu dalam setahun selain bulan kelahiran gw. Di bulan ini ada beberapa perayaan nasional otomatis banyak hari libur!, antara lain: Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, dan juga khususnya di Kota Malang ada Festival Malang Kembali (FMK) yang saban tahun diadakan di sepanjang jalan ijen—terhitung sejak 5 tahun lalu.

FMK adalah pesta budaya juga kuliner rakyat! FMK terbuka untuk siapa saja. Warga asli malang maupun pendatang, kaum urban kek, bule kek silahkan mendatangi festival budaya ini. Persyaratannya apa? Rela desek-desekan sebenarnya nggak ada suatu persyaratan tertulis, tetapi ada kesepakatan tidak tertulis: Dresscode pengunjung FMK adalah batik!

Batik. Agaknya sudah akrab di mata masyarakat Indonesai dan mulai memasyarakat luas. Batik tidak lagi menjadi dominasi (baca: seragam) Bapak-Ibu ke acara-acara resmi, tetapi sudah meluas dan fleksibel penggunaannya pada remaja bahkan anak kecil. Batik juga tidak hanya digunakan di acara resmi, tetapi oke juga saat digunakan pada acara festival budaya—bahkan digunakan sebagai pakaian kuliah.

Tidak berhenti disitu, batik ternyata makin hari makin memberi warna pada dunia fashion Indonesia dan Internasional. Nggak percaya? Nih, buktinya :

Tidak melulu berbentuk baju, tetapi batik kini juga mulai diperkenalkan dalam bentuk jaket, tas dan topi.

See, batik nggak selamanya jadul kan? Batik kenyataannya makin digemari masyarakat luas karena desainnya yang makin beragam🙂.

Membahas tentang batik, tepat tanggal 2 Oktober 2009 lalu UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia tak benda (intangible cultural heritage/ICH) dari Indonesia—setelah wayang dan keris sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia pada tahun 2003 dan 2005. Suatu kebanggaan bagi Indonesia! Karena karya turun-temurun bangsa akhirnya diakui keberadaan dan keotentikannya di mata internasional.

Melalui keanggunan desainnya, batik juga berhasil menarik hati dunia internasional. Batik Indonesia yang baru-baru ini dipamerkan di Ceko oleh Helena Hoskova—dosen Jurusan Tekstil Universitas Usti nad Labem, Ceko—yang tertarik mempelajari Batik di Indonesia—ternyata diapresiasi positif oleh masyarakat Ceko. Sumber lain juga menyebutkan bahwa keluarga kerajaan Inggris juga tertarik dengan batik buatan Indonesia!

Untuk turut melestarikan budaya bangsa dan meningkatkan apresiasi kita terhadap batik, nggak ada salahnya kita tahu sedikit tentang batik di Indonesia.

Kata ‘Batik’ berasal dari bahasa Jawa, yakni: “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Asal usul Batik sampai sekarang masih belum jelas. Batik dapat ditemukan di berbagai negara asia seperti Indonesia, Malaysia,Thailand, dan Sri Lanka. Tetapi tetap Batik yang paling terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia. Corak dan motif batik Indonesia sendiri sangat banyak, ada yang merupakan motif asli dari nenek moyang bangsa kita dan ada juga yang merupakan akulturasi dengan bangsa lain.

Batik Kraton

Motifnya mengandung makna filosofi hidup. Sesuai namanya, batik ini hanya dibuat secara khusus dan digunakan di kalangan kraton.

Batik Sudagaran

Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua.

Batik Petani

Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing.

Batik Belanda

Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.

Batik Cina/Pecinan

Ciri khas batik ini warnanya variatif dan cerah, dalam satu kain menampilkan banyak warna. Motifnya banyak mengandung unsur budaya Cina seperti motif burung hong (merak) dan naga. Pola batiknya lebih rumit dan halus.

Batik Jawa Hokokai

Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan dengan latar belakang yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya motif bunga padi.

Batik merupakan budaya daerah. Budaya daerah adalah budaya nasional. Teman tahu kan bahwa bangsa Indonesia sering banget nyaris kecolongan hak paten—jangankan budaya bangsa (yang bentuknya nggak nyata), kecolongan pulau aja sering!—hal ini karena ketidakpedulian kita—generasi muda—terhadap kekayaan budaya bangsa! Boro-boro budaya bangsa! Nggak jauh-jauh deh, saat masih sekolah matapelajaran bahasa daerah, ekskul karawitan dan tari daerah jarang banget diminati oleh siswa! Alasannya: ndesa-lah, nggak gaul-lah, ketinggalan jaman-lah… dan beribu juta alasan pembenaran lain.

Mengikuti ekskul Modern Dance menjadi suatu kebanggaan tersendiri—dianggap anak gaul—daripada ikutan lenggak-lenggok dalam tari tradisional. Ini masalahnya!

Halo, teman… kalau kebiasaan seperti itu terus dilakukan dari generasi ke generasi… bisa-bisa budaya Indonesia hilang, anak cucu kita nanti nggak tahu tentang tari aseli daerah seperti tari topeng, tari malangan, tari jaipong dan tari daerah yang lain. Nggak bisa berbahasa jawa halus (krama inggil) pada orang tua. Budaya bangsa akan menguap begitu saja, sejalan dengan arus globalisasi yang melanda. Bangsa Indonesia akan kehilangan identitas, tidak lagi memiliki budaya bangsa yang unik, menjunjung tinggi kesopanan, adat dan tata krama. Semuanya terkikis oleh budaya asing. Habis.

Apakah seperti itu gambaran masa depan Bangsa Indonesia? Anak cucu kita yang tidak lagi memiliki identitas bangsa? Implikasinya: kebudayaan daerah memudar. Kebudayaan bangsa hancur. Kedaulatan Indonesia perlahan tapi pasti akan runtuh. Amit-amit jabang bayi. Jangan sampe deh. Indonesia ya Indonesia!

Teman, mari kita merubahnya! Dimulai dari menimbulkan kecintaan dan kebanggaan akan budaya bangsa, akan muncul perasaan memiliki dan ingin melestarikan budaya bangsa. Juga dengan mengadakan festival budaya secara rutin.

Lagi-lagi, jangan puas hanya jadi penonton! Jadilah aktor dalam perubahan! Wujudkan Indonesia yang jaya dengan melestarikan budaya daerah! Jaya Indonesiaku…

Sssht, percaya atau tidak berdasarkan berita yang dikutip dari TvOne: Indonesia (lagi-lagi) kecolongan hak paten:

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Lombok Barat Djoko Wiratno mengatakan, kerajinan tempurung kelapa yang dibuat perajin di daerah ini telah dipatenkan oleh seorang warga Prancis. “Warga Prancis tersebut dulunya dikenal sebagai pembeli produk tersebut, namun kemudian dia mempatenkan produk perajin Lombok Barat itu,” katanya di sela kegiatan “Sosialisasi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan Kehalalan Produk”, di Mataram, Selasa (25/5/10).

Ckckc, apakah kita akan diam  saja? Apa  kata dunia?

Sumber:

http://thebatik.net/batik-indonesia/

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2628664

http://female.kompas.com/read/xml/2009/09/13/09154398/batik.menuju.pengakuan.dunia

http://sosialbudaya.tvone.co.id/berita/view/39680/2010/05/25/astaga_kerajinan_indonesia_kembali_dipatenkan_asing/

5 thoughts on “Batik, Budaya Bangsa (3B) Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s