Apa yang Harus Kamu Pertimbangkan Saat Mencoba Freelance-an? (Part I)

Kadang keinginan menjadi freelancer itu ada. Bekerja cukup bermodal skill, laptop dan koneksi internet. Bekerja tidak lagi dibatasi ruang dan waktu, tidak harus bekerja di kota lain, tidak lagi disuruh-suruh oleh Pak Boss, bebas mau menentukan hari libur kapan saja, tidak terikat aturan cuti yang terbatas, dan yang paling penting : menikmati penghasilan secara utuh (kalaupun dibagi dalam kelompok, jumlah orangnya biasanya tidak banyak—hanya 2 atau 3 orang).

Image

Temen kantor saya pun ada yang punya kenalan seorang fulltime freelancer (yang dikenalnya secara nggak sengaja melalui kaskus), dia—sebut saja si A—bekerja sebagai web programmer, si A mengandalkan adanya order dari freelancer.com—situs penyedia informasi freelance, fyi : ada banyak jenis pekerjaan yang ditawarkan, mulai dari penerjemah, logo designer, hingga web programmer. Dengan menjadi fulltime freelance  disitu, dalam satu bulan si A bisa meraup penghasilan minimal $ 1.000 per bulan (asumsi kurs rupiah terhadap dolar = 10rb-an) untuk berapa project. Wow banget. Karena si A sudah memiliki banyak portfolio tentang project-projectnya yang kelar, sehingga ratingnya lumayan tinggi dan banyak yang mengendorse dia—semakin tinggi rating, semakin besar biaya ‘sewanya’ (bahkan bisa aja itungannya per-hour, bukan per-project). Nah, saya nggak tanya sih, bagaimana napak tilasnya di masa-masa awal memulai dan komitmentnnya untuk bertahan untuk menjadi fulltime freelancer, next post deh yaa.

Semakin ingin jadi freelancer? Nggak usah yang fulltime deh, yang freelance part-time aja, itung-itung buat tambahan uang jajan dan modal nikah.

Wait. Nggak fair dong kalo cuma bahas dari sisi positifnya aja.

Menurut situs ruangfreelance, secara umum freelance artinya bekerja sendiri, berusaha sendiri, tenaga lepas, pekerja bebas yang tidak berkomitmen kepada majikan dalam jangka tertentu. Penulisnya mengklasifikasikan jenis freelancer berdasarkan kenyataan yang sering ditemui, full article nya baca disini ya (dan setelah saya skim, saya termasuk freelance part-time single fighter #emangsiapayangnanya).

Image

P.S : Tulisan ini terbagi atas dua bagian, karena saya  capek nulis banyak-banyak *jujurbanget*. Ini Part I nya, Part II nunggu lanjutannya kapan-kapan besok.

Ini sih berdasarkan sharing dengan temen kantor dan pengalaman saya sebagai freelancer part-time yang masih seumur jagung. Ada beberapa pertimbangan juga untuk menjadi freelancer, beberapa diantaranya:

Pertama : Extra Time

Tidak mudah lho untuk menjadi seorang freelance, karena kita harus meluangkan extra time (di luar jam kerja) untuk mengerjakan project (yo lawas min). Kan mulai pagi udah kerjadi kantor, sedangkan malamnya harus rela minimal mengurangi jatah bobok nya 4-5 jam untuk mengerjakan project freelance. Mengapa malam hari? Iya, alasannya 2 : pertama, sebenarnya tergantung siapa yang kasi kita project—kalo dia dia orang US, ya jam kerjanya mengikuti jam kerja di US—sesekali dibutuhkan komunikasi verbal, sehingga mulai biasakan komunikasi dengan bahasa linggis ya; kedua, biasanya ide dan good mood baru muncul saat malam hari, jam 1 dini hari sampe jam 5 pagi.

Kedua : Seni Menentukan Harga

Kata temen saya yang udah sepuh di dunia freelance, menentukan harga yang tepat atas kinerja kerja kita adalah hal yang gampang-gampang susah. Ada seninya sendiri : Seni Menentukan Harga. Meski gampang-gampang susah, seni ini dapat dipelajari kok, seiring dengan meningkatnya jam terbang kita sebagai freelancer. Apa saja yang jadi pertimbangan penentuan harga?

  • Kita harus tau siapa orang yang kita ajak bicara, apa relasinya dengan kita? apakah dia teman kantor, teman lama, teman dari kaskus, temannya teman kantor, atau teman-teman yang lain.
  • Kita juga harus tau kemampuan/daya belinya seberapa.
  • Bikin list sedetail mungkin tentang kewajiban apa aja yang harus kita selesaikan, sesuaikan dengan penawaran harga yang diajukan. Ingat, sebelum menentukan harga, kita bener-bener harus mendetailkan task apa aja yang akan kita kerjakan dan service apa saja yang kita berikan.

Tips : Ada baiknya kita menyusun semacam surat kontrak/perjanjian yang disetujui oleh kedua belah pihak dan ditandatangani materai. Dokumen perjanjian ini berisi kewajiban dan hak kita dan klien, yang mana akan menjadi acuan pengerjaan sekaligus bisa menjadi kekuatan hukum bagi kita dan klien, jika di tengah perjalanan ada yang case-case tertentu yang tidak sesuai prosedur.

Faktor-faktor itu bisa menjadi pertimbangan kita menentukan harga lebih mahal, standar, atau lebih murah dari pasaran. Agak berbeda sistemnya kalau di situs freelancer.com, karena biasanya setiap project sudah ada bandroll patokan harga berapa dolar gitu, kecuali kalau masih ada chance untuk bisa menawar harga project, ya monggo dicoba aja.

#bersambung ke Part II.

_oktavianidewi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s