Maleficent : The Sleeping Beauty’s Untold Story

Jumat tanggal 13 Juni 2014, saya mengiyakan ajakan temen, Umi, untuk nonton Maleficent, film yang lagi now watching banget di path-path. Itung-itung refreshing setelah beberapa hari sebelumnya kami under-pressure banget buat persiapan acara something. Umi menawarkan pilihan nonton di Lenmarc (in which located di Surabaya Barat, dan jauh banget dari kosan) atau di Tunjungan Plaza (lebih reachable, di tengah kota, deket dengan kosan). Atas pertimbangan jarak, akhirnya dipilihlah Bioskop 21 Tunjungan Plaza sebagai tempat nonton kita.

YO4rMp6xAF

Saya belum sempet liat traillernya Maleficent sebelum nonton film ini, bahkan saya sama sekali ngga ngerti Maleficent ini film apaan. Setau saya, Maleficent ini dibintangi Angelina Jolie. Udah itu aja. Ternyata, as this title goes, Maleficent is the dark angel in the sleeping beauty. This film mostly reveals the untold stories from the tale of sleeping beauty. Well, saya nggak bakal cerita tentang gimana alur cerita Maleficent, karena yang belum nonton ntar kecewa karena nontonnya jadi nggak seru kalo saya bocorin jalur ceritanya🙂.  Saya mau bahas pesan moral yang aku dapet abis nonton Maleficent ini. Menurut saya Film Maleficent ini ada kemiripan dengan Film Frozen di beberapa hal:

  • Cinta sejati tidak hanya cinta dari lawan jenis, tetapi bisa dari orang-orang terdekat kita. Di Film Frozen, saya kira cinta sejati Princess Anna adalah Prince Hans. Ternyata bukan, karena cinta sejati Princess Anna adalah Princess Elsa. Begitu juga di Maleficent, justru Maleficent-lah yang membebaskan Aurora dari kutukan tidur yang diberikan oleh si Maleficent sendiri. Maleficent lah cinta sejati Aurora, bukan Pangeran Philip.
  • Everything happens for a reason, never judging about something before knowing the whole reasons. Mengapa si Maleficent memberikan kutukan pada Aurora? Yaa, makanya tonton filmnya🙂. Di Film Frozen, Princess Elsa juga memiliki alasan mengapa ia menutup diri dari sekitarnya, bahkan pada adiknya, Princess Anna. Walaupun kelihatannya, yang berbuat jahat adalah tokoh Maleficent dan Princess Elsa.
  • Lebih manusiawi (atau lebih peri-awi :p). Mengapa saya bilang film Maleficent dan Frozen lebih manusiawi? Karena penggambaran karakternya lebih berimbang. Baik-buruknya perilaku seseorang didasarkan pada alasan-alasan tertentu, yang mungkin tidak diungkapkan (untold). Saya yakin Maleficent tidak akan memberi kutukan jika Aurora jika Stefan nggak berkhianat. Begitu juga dengan Princess Elsa tidak akan menutup diri jika ia dapat mengontrol kekuatan supernya. Menurut saya sih, nggak manusiawi banget jika tanpa alasan tertentu seseorang tiba-tiba berperangai jahat. Karena pada dasarnya manusia dibekali sifat baik dan sifat buruk.

Okeeeh, jadi pelajaran yang bisa diambil dari 2 film besutan Disney tersebut adalaaaah : orang yang berhati tamak akan mati dalam ketamakannya dan never judge people before knowing the whole (maybe untold) reasons.

name

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s