Sepenggal Cerita Perjalanan Pulang

Hi,

Liburan semester ini saya sempatkan pulang ke Indonesia, selain menghindari musim panas di Jepang yang panas banget (mencapai 39 derajat celcius), saya juga butuh asupan motivasi dari orang-orang terdekat *tsaah* makanya itu saya putuskan untuk pulang selama 3 minggu.

DSC_0321

Saat ini saya sedang menempuh master di Jepang dengan biaya penuh oleh LPDP. Tidak terbayangkan sebelumnya saya bisa menuntut ilmu di Negara yang saya impi-impikan sejak saya duduk di bangku SMP. Jujuuuur banget, setelah saya berada di posisi saya sekarang ini. Saya masih belum belajar dengan maksimal, masih terbawa euphoria tinggal di luar negeri dan senang mengeksplorasi lingkungan sekitar, hingga saya terlena dan agak gak fokus dengan kewajiban utama saya ke Jepang adalah untuk belajar sebaik-baiknya. Ingat, kamu disekolahkan jauh-jauh kesini menggunakan uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat Indonesia.

Perlu diketahui bahwa environment belajar di luar negeri berbeda sekali dengan belajar di dalam negeri (data perbandingan yang saya miliki adalah pengalaman saya kuliah di kampus S1). Bahasa pengantarnya saja berbeda, mostly saya mengambil matakuliah yang disampaikan dengan bahasa inggris, praktis textbook yang digunakan juga bahasa inggris. Ini adalah pertama kalinya saya mendapati bahasa inggris sebagai bahasa utama yang digunakan di kelas secara full. Rasanya otak saya harus bekerja dua kali: menerjemahkan kalimat dari bahasa inggris-indonesia; dan memahami maksud dari kalimat translasi. Memahami buku bahasa inggris pun nggak semudah membaca tulisan di Quora atau Medium. Susah sekaliii rasanya. Saya kadang give up membaca textbook, lalu saya buka youtube dan cari tutorial online.

Jelas bahwa saya butuh waktu dua bahkan tiga kali lebih banyak (dibandingkan teman saya yang native English atau sudah pernah sekolah di International school sebelumnya) untuk dapat memahami suatu materi dalam bahasa inggris baik secara aktif maupun pasif. Saya sering mengeluh di twitter, namun pada akhirnya saya menyadari bahwa nggak ada gunanya mengeluh. Semakin banyak mengeluh, semakin menyuburkan pikiran negatif dalam otak.

Pada liburan kali ini, saya sempatkan sehari berkunjung ke dosen saya di kampus, saya minta saran dan motivasi dari mereka yang dekat dengan saya dan pernah sekolah di luar negeri. Alhamdulillah, ada banyak sekali masukan positif yang saya dapatkan. Berikut ini saya rangkum masukan positif dari mereka, saya rasa saran ini cukup universal, sehingga pembaca sekalian bisa juga menerapkannya:

  1. Lebih proaktif di kelas, terutama saat berusaha memahami materi

Dalam sehari, kita hanya memiliki waktu terbatas, hanya 24 jam. Jika kita memiliki 3 matakuliah dalam sehari dan masing-masing matakuliah berdurasi 1,5 jam artinya kita memiliki 4,5 jam waktu untuk belajar di dalam kelas. Pada kesempatan tatap muka dengan Profesor di dalam kelas, kita harus menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk bertanya materi yang tidak dipahami. Artinya, sebelum kelas dimulai, saya sudah harus ‘pemanasan’ dulu dengan mereview materi yang akan diajarkan dalam kelas.

  1. Review sesudah kelas dan bertanya secara langsung ke Profesor di ruangannya jika perlu

Waktu 1,5 jam tatap muka di dalam kelas, bisa jadi sangat terbatas jika materi yang dibahas sangat luas. Tidak ada salahnya untuk bertanya pada Profesor diluar jam mengajar beliau. Ingat, kita bayar mahal SPP untuk sekolah disitu, jangan sampe kita nggak paham dengan penjelasan mereka. Semangatnya bukan karena nggak mau rugi, tapi untuk mendapatkan hak kita sepantasnya🙂. Profesor akan sangat mengapresiasi mahasiswa yang aktif, karena kita menunjukkan effort kita untuk memahami materi mereka. Don’t forget to make appointment first.

  1. Tentukan target (jangka pendek dan panjang) dan lakukan evaluasi harian

1 tahun adalah kumpulan dari 12 bulan, 1 bulan adalah kumpulan dari 4 minggu, 1 minggu adalah kumpulan dan 7 hari. Target yang kita tentukan dapat dicapai melalui pencapaian target-target harian. Akhirnya kita akan dapat memanfaatkan waktu yang kita miliki. Kadang kita lupa bahwa waktu dan umur juga pemberian dari Allah, pemberian ini akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Kalau ingat pertanggungjawaban di akhirat, mendapatkan beasiswa ini juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Haduh, ya Allah.

Kadang ya kalau mikir bahwa semua harta akan dimintai pertanggungjawaban, rasae nggak mau deh dikasi harta banyak-banyak supaya nggak berat pertanggungjawabannya :p. Tapi ya kadang kita ‘memilih’ untuk mendapatkan amanah itu. Ya seperti ngedapetin beasiswa kan ya jalan yang saya pilih, yang mana konsekuensinya adalah mempertanggungjawabkan penggunaan uang beasiswa dan memanfaatkan waktu belajar disini dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, kuatkanlah hamba.

  1. Terapkan semangat Kaizen

Kaizen menurut Wikipedia artinya adalah continuous improvement. Kalau kata dosenku, jangan lewatkan sehari aja tanpa progress.

Kuliah master, apalagi ketika udah masuk lab, harus banyak-banyak baca paper publikasi dari penelitian yang sudah dilakukan. Tujuannya untuk memperdalam keilmuan kita sehingga bisa membantu kita untuk menemukan ide untuk penelitian yang akan dilakukan. Kadang professor menentukan target dalam sehari harus membaca berapa paper. Membaca satu paper saja udah bikin pusing, apalagi membaca banyak paper dalam sehari—begitu keluh beberapa teman saya.

Nggak ada pilihan lain selain MAU NGGAK MAU harus DIJALANI. Karena jika dikerucutkan, pilihannya hanya ada dua: LULUS atau NGGAK LULUS. Walaupun obat itu pahit, susah dan perih rasanya tapi ketika kita sakit, kita harus dipaksa minum obat supaya sakit kita sembuh. Nah, sakit ‘kebodohan’ dan ‘kemalasan’ saya harus dicekoki dengan obat yang susah ditelan, pahit dilidah dan perih ketika kena luka sayatan.

Credit to: https://www.pinterest.com/pin/435160382717464219/

Jadi kalau dipikir sekolah di luar negeri enak apa nggak, ya ada enaknya ada nggak enaknya. Yang enak tuh kalo jalan-jalan dibiayai sponsor alias gratis.

Saya tidak menyesali kepulangan saya selama 3 minggu di Indonesia, ada semangat baru yang saya dapat dari orang-orang terdekat saya. Peningkatan semangat untuk menjadi lebih baik di semester depan (dan selamanya :p), semangat berkarya dan semangat berketuhanan. Tentang semangat berketuhanan, saya jadi ingat bahwa pemimpin-pemimpin yang berdedikasi pada masyarakat seperti Ibu Risma, Pak Ridwan Kamil dan Pak Ahok adalah orang-orang yang menjaga iman pada Tuhan dan hari akhir. Semoga kelak kita bisa memberikan kontribusi untuk bangsa Indonesia seperti atau bahkan lebih baik dari mereka.

3 thoughts on “Sepenggal Cerita Perjalanan Pulang

  1. Hi mbak oktavianidewi
    Salam kenal

    Saya suka dgn beberpa postingan mbak tentang semangat menuntut ilmu, saya pun ingin bisa mendapat beasiswa lpdp seperti mbak. Jika tidak keberatan bolehkan saya meminta contoh essay peranku untuk indonesia dan sukses terbesar dalam hidupku yg mbak tulis dulu sewaktu melamar beasiswa tsb. Ini alamat email saya dinipp08@gmail.com
    Terima kasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s