Experiencing my First Hackathon

Hackathon adalah gabungan dari kata hacking yang maksudnya untuk menyelesaikan suatu masalah secara out of the box dan marathon yang artinya kegiatan tersebut (hacking) diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya (biasanya 1-3 hari). Hackathon sendiri mulai populer di Indonesia di tahun 2014-an, at least once in a lifetime kudu coba.

Mengapa? Karena di Hackathon selain bisa meningkatkan bonding antar tim, kita juga bisa tau kemampuan masing-masing anggota tim, termasuk diri kita sendiri. Mengetahui kemampuan diri sendiri ini penting untuk meningkatkan self-confidence, bahwa kita punya lho kemampuan A, B, C, D. Selain itu, kemampuan kita untuk bertahan juga diuji, apakah kita bisa ‘bertahan’ untuk bikin prototype program yang bisa jadi problem solving in a limited time and tight deadline.

Tim Hackaton biasanya terdiri dari 3-4 orang, dengan komposisi ideal mirip formula dasar startup: ada hustler, hipster dan hacker. Hustler adalah orang yang jago presenting produk, Hipster adalah designer product dan bisa ngurusin UX/UI nya lah dan Hacker adalah orang yang ngurusin coding back-end nya. Sehingga ngga mungkin hackathon ini dilakukan oleh single fighter.

Hackathon yang saya ikutin diadakan oleh internal kantor saya di kata.ai, dimana rules nya adalah kami diwajibkan bikin bot yang bisa increase our internal productivity. Nah, bikin bot nya apakah from scratch? Nggak lah, kantor kami punya platform dan backend yang udah robust untuk bikin bot berbahasa Indonesia, namanya kataML. Sehingga untuk bikin bot udah ngga susah susah lagi, we cut your valuable time to make bot with our platform.

Nah, kemaren sih, kami bikin bot untuk handle Branding dan Customer Service di kantor kami. Emang project ini sejak dulunya pengen di bikin, tapi belum ada karena karena ga ada yang handle. Jadi ya kenapa nggak kami propose bikin bot itu di hackathon ini. Pengerjaan bot ini dibagi dalam 3 sprints dimana each sprint spend about 2 hours. Tapi, realitanya kita begadang semalam dan lanjut besok paginya untuk nyelesein bot ini. Kayak balik ke jaman kuliah, dimana ngerjain tugas bareng-bareng di 2-3 hari terakhir.

Lucunya nih, mostly virtual bots that we made in hackathon are presented as girls, nggak hanya itu, banyak virtual bot yang udah going into production juga rata-rata pake nama cewek, seperti: Jemma, Rinna, Vira, Soraya, etc. Ada sih, satu bot cowok namanya Bang Joni. Tapi ya wajar sih, the real Customer Service emang biasanya kebanyak cewek kaan hehe.

Jadi, ketagihan ikutan hackathon? Iya dan nggak. Iya ketagihan kalo udah dapet idea dan tim yang solid. Nggak ketagihan ketika harus begadang semaleman… itu ngga enak banget wkwk. Tapi sebenernya, ada solusi biar ga begadang semaleman, dengan nyicil project untuk hackathon dari jauh-jauh dari dan pas hari-H cuma menyempurnakan dan testing project aja.

Buat yang pengen bikin startup event hackathon ini nggak boleh dilewatkan, karena di event ini biasanya diadakan oleh startup besar seperti hackathon yang diadain Go-Jek di Maret 2017; selain itu ngga menutup kemungkinan ada investor yang hadir untuk liat ide-ide kreatif dari anak muda yang potensial untuk diberi suntikan dana. Produk dari hackathon ini pasti nggak sempurna dan pasti ada bug, karena ada keterbatasan waktu dan tenaga. Tapi yang valuable adalah ide kreatif dari anak muda yang bisa solve the problem.

Daripada nih, ngabisin waktu di mall dan ngobrol ga jelas, mending abisin waktu untuk coding, cari partner, bonding ama mereka dan eksekusi ide kamu yang siapa tau bisa diikutin hackathon :).

Advertisements

My life updates after BFG

Do your best, let Allah do the rest

Pada tahun 2017, nasib mempertemukan saya dengan hiruk pikuk kehidupan kota Jakarta. Di track record travelling saya, Jakarta emang belum pernah saya datangi secara on purpose, paling ya cuma transit flight. Sepulang dari Jepang, sebenarnya sudah terbayangkan sih kalo saya mungkin akan mencari pekerjaan di Jakarta dan sekitarnya, melihat geliat IT (terutama kebutuhan akan data scientist dan sejenisnya) yang berkembang sangat pesat disini.

Satu bulan setelah pulang dari Jepang, pada 12 Maret 2017, saya melangsungkan pernikahan dengan orang paling sabar sejagad raya. Saya turut mengundang Pak Jokowi, namun sepertinya beliau sibuk menemani Raja dari Saudi Arabia, sehingga ngga bisa datang XD. Foto-foto pernikahan emang sengaja nggak kami (cieee, kami: saya dan suami, red.) upload, untuk meghormati mereka yang masih berikhtiar menuju pernikahan tetapi jalannya masih berliku. Cukuplah kami berdua, Bapak KUA, dan semua tamu undangan yang tau kalo kami uda nikah.

Miss the man in frame #ldmlyfe #setrong

A post shared by Dewi Nurfitri Oktaviani (@oktavianidewi27) on

 

Nah, tiga bulan sesudah menikah, ada tawaran pekerjaan yang merupakan dream job saya banget. Kriteria dream job saya sih sebenarnya sepele, asalkan pekerjaan tersebut memberi kesempatan untuk saya bisa coding dan bisa utak atik nlp, tuning parameter classifier, etc. SAYA. UDAH. SENENG. BANGET. Ngga ada yang lebih menyenangkan daripada mengerjakan hobi yang dibayar.

Continue reading “My life updates after BFG”